JAKARTA—Pengurus Besar Nahdlatul ulama (PBNU) berharap kepada Presiden dan Wakil Presiden terpilih periode 2024-2029 menunaikan janji yang diucapkan di masa kampanye. Harapan tersebut merupakan pernyataan sikap resmi PBNU terkait pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak 2024, yang disampaikan pada Jumat (16/2/2024).
Pernyataan sikap disampaikan oleh Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf di di Plaza PBNU, Lantai 1 Gedung PBNU. PBNU juga mengaktifkan kembali pengurus PBNU maupun badan otonom (banom) yang sempat dinonaktifkan karena terlibat secara aktif dalam kampanye.
“Lanjutkan berjuang untuk kemenangan Indonesia. Karena semua yang menjadi ide, menjadi visi, sudah dicurahkan semua kepada publik janji-janji sudah disampaikan. Kita minta supaya ini semua diwujudkan,” kata pria yang akrab disapa Gus Yahya tersebut saat konferensi pers.
Gus Yahya mengingatkan kepada presiden terpilih agar senatiasa mengutamakan kepentingan rakyat. “Kalau mau tambahan dari sudut pandang PBNU, sekali lagi, seperti dulu pernah saya sampaikan juga, takutlah kepada tuhan dan sayangilah rakyat ini, gitu,” ujar dia.
Yahya juga menyatakan mengapresiasi sikap para Capres-Cawapres yang menurut dia sama-sama menyatakan akan kembali bersatu usai Pemilu 2024.
“Saya lihat kalau tokoh-tokoh yang terlibat sudah bagus, ya. Kemarin sudah ada pernyataan merangkul semua, kembali bersama lagi. Sudah baguslah. Pokoknya, yang penting menangkanlah Indonesia ini. Itu yang penting,” tambahnya.
Yahya juga memberikan apresiasi atas terselenggaranya Pemilu 2024 yang menurut penilaiannya aman dan damai.
“Saya ingin menyampaikan selamat kepada bangsa Indonesia, kepada pemerintah, penyelenggara Pemilu dan kontestan, bahwa proses pemilu sampai dengan pemungutan suara telah terlaksana dengan baik, yang ini dalam sudut pandangan kami merupakan kemenangan Indonesia,” kata dia.
Hasil perhitungan cepat atau quick count yang dirilis beberapa lembaga survei menunjukkan bahwa pasangan Capres-Cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, unggul jauh dibandingkan dengan dua paslon lainnya.
Apabila ada pihak-pihak yang tak puas dengan hasil Pemilu, Yahya menyarankan untuk menempuh jalur-jalur yang sesuai dengan hukum dan perundang-undangan yang berlaku.
“Soal hasil ini, saya kira yang tersisa tinggal masalah-masalah yang bisa diselesaikan dengan proses yang semestinya, yaitu secara hukum dengan ketentuan yang sudah jelas,” tandas kakak kandung Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas itu.
Terkait adanya dugaan kecurangan dalam Pemilu 2024, Yahya menegaskan, untuk menangani hal tersebut, sudah ada mekanisme aturan dan hukum yang dapat digunakan.
“Aturannya sudah ada. Hukum sudah ada semua. Kalau misalnya melihat penyelewengan, sudah ada aturannya. Ajukan saja. Semuanya nanti akan diproses,” kata dia.
Namun demikian, Yahya menilai bahwa tidak ada potensi masalah yang signifikan pasca-Pemilu ini. Dia bahkan mengira bahwa jika terjadi masalah di kemudian hari, maka ada pihak yang sengaja melakukannya.
“Semuanya bisa diselesaikan dengan baik. Kalau tiba-tiba nanti ada masalah, itu pasti ada yang bikin-bikin,” papar dia.
Dalam kesempatan yang sama, Yahya juga mengumumkan pencabutan penonaktifan fungsionaris pengurus PBNU dan badan otonom (banom) yang sebelumnya terlibat dalam pencalonan legislatif (caleg) dan tim sukses Capres-Cawapres pada Pemilu 2024. Penonaktifan tersebut sebelumnya tertuang dalam Surat Keputusan Nomor 285/PB.01/A.II.01.08/99/01/2024 tentang Penonaktifan Fungsionaris Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
“Kami memutuskan untuk mencabut penonaktifan dari teman-teman yang kemarin non-aktif. Jadi, dimulai hari ini, seluruh personel PBNU maupun pengurus-pengurus badan otonom telah aktif kembali menjalankan tugas sebagaimana biasa,” kata dia.❒





