Serangan terjadi setelah pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) pimpinan Mohammad Hamdan Daglo merebut El-Fasher dari militer Sudan, usai pengepungan selama 18 bulan. Kota itu merupakan benteng terakhir tentara di Darfur.
Kejatuhannya menimbulkan kekhawatiran akan terulangnya kekejaman etnis seperti dua dekade lalu, ketika milisi Janjaweed — cikal bakal RSF — dituduh melakukan genosida terhadap komunitas non-Arab.
Daglo, dalam pidatonya pada Rabu (29/10), menyatakan penyesalan atas “bencana yang menimpa warga El-Fasher” dan menegaskan warga sipil tidak menjadi target. Namun, laporan lapangan dan citra satelit menunjukkan hal sebaliknya.
Laboratorium Penelitian Kemanusiaan Universitas Yale melaporkan citra satelit memperlihatkan “peristiwa pembunuhan massal” di sekitar Rumah Sakit Saudi dan dugaan pembantaian di bekas Rumah Sakit Anak di timur kota, yang kini dijadikan tempat penahanan oleh RSF. Laporan itu juga menemukan bukti “pembunuhan sistematis” di luar kota, mengindikasikan pembersihan etnis terhadap komunitas non-Arab.
Pemerintah Sudan menuduh RSF menewaskan lebih dari 2.000 warga sipil serta menargetkan masjid dan pekerja kemanusiaan Palang Merah. Sementara itu, Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah melaporkan lima relawan tewas dan tiga lainnya hilang di kota Bara, Kordofan tengah, yang baru direbut RSF.
Lebih dari 33.000 orang dilaporkan melarikan diri dari El-Fasher sejak Minggu ke Tawila, sekitar 70 kilometer di barat, yang sudah menampung lebih dari 650.000 pengungsi. Sekitar 177.000 orang masih bertahan di kota itu dari total populasi sebelum perang yang mencapai satu juta jiwa. Jalur darat dan jaringan komunikasi tetap terputus, kecuali untuk RSF yang menguasai koneksi satelit Starlink di wilayah tersebut.***





