Pancasila Digali di Kediri, Baru Disempurnakan di Ende

Ilustrasi lambang Sila Pertama Pancasila dan Presiden pertama RI, Sukarno. Sebuah tesis sejarah menyebut Pancasila digali di Kediri, Jawa Timur, lalu disempurnakan di Ende, NTT. FOTO: Ilustrasi Samudra Fakta

Dalam Kakawin Sutasoma, istilah “Pancasila” disebutkan dua kali, yaitu dalam seloka-seloka suci, yang dalam bahasa Jawa kuno berbunyi: Bwat Bajrayana Pancasila ya gegen den teki hawya lupa! (Bagi yang mengikuti vajrayana, Pancasila harus dipegang teguh, jangan sampai dilupakan)” (Sutasoma, 145:2).

Dalam pupuh lain Kakawin yang sama, Mpu Tantular mencatat: Astam sang catursrameka tarinen ring Pancasila Krama (Wajibkanlah kepada semua anggota catur asrama supaya Pancasila dijalankan secara teratur)” (Sutasoma, 4:4).

Sementara itu, dalam Kakawin Negara Kertagama, kata “Pancasila” dijumpai dalam seloka yang berbunyi: “Yatnagegwani Pancasila krtasangskara bhisekakrama (Sang Raja selalu waspada dan teguh memegang Pancasila, berlaku mulia, dan menjalankan upacara agama)” (Negara Kertagama, 43:2).

Bacaan Lainnya

Alasan keempat yang menguatkan pendapat Kushartono bahwa Pancasila digali di Kediri adalah makna filosofi pohon kepuh yang ada di Ndalem Pojok. “Puh”, dalam bahasa Jawa berarti “diperas, diproses, guna memperoleh sari pati”. Sementara buah pohon kepuh bernama prana jiwa, yang dalam bahasa Jawa berarti “jiwanya jiwa”.

Jiwanya jiwa bangsa Indonesia, kata Kushartono, ya Pancasila. Maksudnya, Pancasila berperan sebagai nyawa, sumber, pandangan hidup, ideologi, bahkan ciri khusus bangsa Indonesia, di mana Pancasila didapat seiring dengan perjalanan sejarah bangsa Indonesia, sehingga mampu membedakan antara ciri khas bangsa Indonesia dengan bangsa lainnya.

Dengan demikian, dapat dijabarkan bahwa maksud “Pancasila sebagai jiwa bangsa Indonesia” memiliki arti bahwa “setiap aktivitas, perbuatan, tindakan, serta pemikiran seluruh individu di Indonesia beradasarkan dan berpedomankan kepada Pancasila”. Makna ini sama dengan makna prana jiwa, buah pohon kepuh. Pancasila sebagai jiwa bangsa Indonesia memiliki arti bahwa Pancasila berfungsi membimbing bangsa untuk mewujudkan masyarakat yang sesuai dengan nilai-nilai luhur di dalamnya.

Alasan kelima, menurut Kushartono, adalah melihat dari sudut pandang ilmu tumbuh-tumbuhan atau botani. Buah pohon kepuh yang bernama prana jiwa mengandung zat alami anti-hayawan. Biasanya buah ini dibuat untuk pelengkap jamasan pusaka. Orang yang duduk berlama-lama di bawah pohon kepuh akan merasa nyaman karena tidak akan ada nyamuk atau ular yang mengganggu—sehingga orang itu bisa tenang, nyaman, fokus dan khusyuk. Menurut Kushartono, suasana psikologis itulah yang dirasakan Sukarno ketika berkontemplasi di bawah pohon kepuh, hingga akhirnya muncullah inspirasi untuk menggali Pancasila.

Pos terkait