Obituari Tan Joe Hok: Sang ‘Pembunuh Raksasa’ yang Pernah Jadi Korban Diskriminasi

Tan Joe Hok, legenda bulu tangkis Indonesia. | PP PBSI

Dia juga sempat menjajal karier di luar negeri sebagai pelatih bulutangkis di Meksiko dan Hong Kong, namun akhirnya kembali ke tanah air dan menjadi pelatih di PB Djarum pada 1982. Di situ dia menjabat sebagai pelatih dan project manager cabang Jakarta.

Puncaknya, ia dipercaya memimpin tim Piala Thomas 1984 dan sukses membawa Indonesia menaklukkan Tiongkok untuk kembali merebut supremasi bulu tangkis dunia.

Puncak pengabdiannya datang ketika ia ditunjuk sebagai pelatih pelatnas Piala Thomas 1984. Berkat kepemimpinannya, Indonesia berhasil menaklukkan Tiongkok dan merebut kembali supremasi dunia bulu tangkis.

Bacaan Lainnya

Atas jasanya, SIWO/PWI Jaya menganugerahkan penghargaan Pelatih Olahraga Terbaik tahun 1984.

Pernah Mengalami Diskriminasi

Meski sudah mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional lewat jalur olahraga, Tan pernah mengalami diskriminasi karena latar belakang etnisnya. Dia kesulitan untuk mendapatkan kewarganegaraan penuh di Indonesia pada masa awal Orde Baru berkuasa.

Pada waktu itu, warga keturunan membutuhkan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI), identitas yang menyatakan bahwa pemiliknya adalah warga negara Indonesia.

“Saya sedih kenapa kami harus mengalami hal ini. KTP harus ditandai, harus punya SBKRI, dan harus ganti nama yang lebih memiliki unsur Indonesia,” tutur dia  kepada wartawan, beberapa tahun lalu.

Tan Joe Hok menyebut ia sama sekali tidak berpikir meninggalkan Indonesia dan berganti kewarganegaraan. “Saya lahir di Indonesia dan mati pun di Indonesia,” ucap Tan Joe Hok.

Pria kelahiran Bandung, Jawa Barat, 11 Agustus 1937 ini merupakan satu dari “Tujuh Pendekar Bulu Tangkis Indonesia”, simbol generasi emas yang menancapkan panji Merah Putih di panggung internasional.

Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi dunia olahraga Indonesia, khususnya bulu tangkis. Bersama para wakil Indonesia lainnya, ia membawa bulu tangkis bukan sekadar olahraga, tapi menjadi identitas dan kebanggaan bangsa.

Selamat Jalan, Pak Tan. ***

Pos terkait