Diogo Jota pergi terlalu cepat. Dalam sekejap malam di Zamora, hidupnya terputus bersama sang adik — meninggalkan jejak cinta, gol, dan duka yang tak tergantikan.
__________
Diogo José Teixeira da Silva, lebih dikenal sebagai Diogo Jota, berpulang dalam usia 28 tahun akibat kecelakaan mobil tragis di Provinsi Zamora, Spanyol, Kamis dini hari, 3 Juli 2025. Dalam insiden tersebut, sang adik kandung, Andre Silva (26), yang juga merupakan pesepakbola profesional, turut menjadi korban jiwa.
Mobil Lamborghini yang mereka tumpangi kehilangan kendali setelah salah satu bannya meletus ketika menyalip kendaraan lain, sebelum akhirnya terbakar hebat. Otoritas Spanyol menyebut kejadian itu berlangsung sekitar pukul 00.30 waktu setempat.
Jota, yang baru saja menikah dengan Rute Cardoso pada 22 Juni lalu, meninggalkan tiga anak yang kini kehilangan ayah di usia yang begitu muda. Potret bahagia pernikahan mereka baru-baru ini ia bagikan ke publik — sebuah kenangan terakhir yang kini terasa memilukan.
Karier Jota di lapangan hijau cemerlang. Ia turut membawa Liverpool menjuarai Liga Primer Inggris musim lalu dan menjadi bagian dari skuad Portugal yang mengalahkan Spanyol di final UEFA Nations League pada Juni. Sejak debutnya di timnas senior, ia mencatat 49 penampilan dan mencetak 14 gol, menjelma sebagai penyerang andalan dengan naluri mencetak gol yang tajam dan etos kerja tak kenal lelah.
Federasi Sepak Bola Portugal (FPF) menyebut kepergian Jota sebagai “kehancuran bagi seluruh sepak bola Portugal.” Dalam pernyataan resminya, FPF menulis, “Lebih dari sekadar pemain luar biasa, Jota adalah pribadi yang dicintai dan dihormati, dengan semangat yang menular.” Untuk mengenangnya, UEFA akan mengadakan satu menit hening cipta sebelum pertandingan timnas perempuan Portugal melawan Spanyol.
Lahir di Massarelos, Portugal, pada 4 Desember 1996, Jota memulai karier profesionalnya di Pacos de Ferreira, sebelum bersinar bersama Wolverhampton Wanderers dan kemudian bergabung dengan Liverpool pada 2020. Kariernya juga sempat singgah di Atlético Madrid dan FC Porto sebagai pemain pinjaman.
Klub-klub tempatnya pernah bernaung, rekan-rekan setim, hingga Perdana Menteri Portugal Luis Montenegro, menyampaikan duka cita mendalam atas kepergian dua bersaudara tersebut. “Ini adalah hari yang menyedihkan bagi sepak bola Portugal dan dunia olahraga internasional,” ujar sang perdana menteri.
Diogo Jota tak hanya dikenang karena prestasinya, tetapi juga karena pribadi hangat yang membawa kegembiraan di dalam dan luar lapangan. Ia pergi terlalu cepat, namun namanya akan terus hidup dalam memori para pencinta sepak bola — sebagai pemain yang bermain dengan hati, dan sebagai manusia yang mencintai dengan tulus.
Selamat jalan, Diogo. Selamat jalan, Andre. Sepak bola merunduk hari ini.***





