Pusar Bumi diyakini sebagai pusatnya bumi. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, pernah suatu ketika ada yang mencoba memindahkan Pusar Bumi. Namun, pusar itu kembali lagi ke tempatnya, karena memang di situlah seharusnya dia berada.
Dari Pusar Bumi, prosesi dilanjutkan dengan mengambil bendera Merah-Putih dan bendera Pomad yang disimpan dalam Sanggar Songsong Bawono. Wadanpuspomad sebagai pemimpin prosesi lah yang bertugas mengambil bendera itu, untuk kemudian nantinya diletakkan di samping kanan-kiri patung Mahapatih Gajah Mada.

Sebelum memasuki Songsong Bawono, Wadanpuspomad mendapatkan penjelasan dari juru kunci sanggar. Menurut sang juru kunci, di sanggar itulah Raden Wijaya mendapatkan ilham untuk kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit. Di sanggar itu pula Patih Gajah Mada bertekad untuk mengucap Sumpah Palapa—sumpah yang akhirnya benar-benar dia ucapkan di Pendopo Agung. Tak hanya diucapkan, sumpah itu juga dikerjakan oleh Sang Mahapatih. Hingga akhirnya terbentuklah wilayah-wilayah kepulauan di Nusantara ini sebagai satu kesatuan—yang pada masa kini bernama Indonesia.
Setelah menjalani seremoni di dalam Songsong Bawono, Wadapuspomad dan pasukannya membawa bendera Merah-Putih dan Pomad menuju patung Gajah Mada. Lalu, Wadanpuspomad menancapkan bendara Merah-Putih di sebelah kanan patung dan bendera Pomad di sebelah kiri. Sebuah bentuk komitmen untuk menjaga keamanan dan persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia—yang merupakan representasi dari Nusantara, yang dipersatukan oleh Mahapatih Gajah Mada di masa lalu.
“Prosesi ini rutin diadakan setiap tahun. Dengan prosesi ini, Pomad bertekad untuk selalu menjaga semangat untuk menjaga persatuan dan kesatuan NKRI, sebagaimana semangat Mahapatih Gajah Mada menyatukan Nusantara dan menjaga persatuan itu. Karena Pomad ada untuk menjaga persatuan dan kesatuan NKRI,” kata Wadanpuspomad Mayjen Eka Wijaya.
Pernyataan yang menggambarkan sebuah tekad kuat untuk menjaga akad dibentuknya Pomad: sebagai penjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia.
(Juki)





