Museum Marsinah Dibangun di Nganjuk, Negara Rawat Ingatan Perjuangan Buruh

Museum Marsinah
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bersama Gubernur Khofifah usai meletakkan pembangunan museum Marsinah di Desa Nglundo, Kabupaten Nganjuk, Sabtu, 27 Desember 2025. Foto:Dok Adpim Pemprov Jatim
Negara menandai pengakuan atas perjuangan buruh lewat peletakan batu pertama Museum Marsinah di Nganjuk.

Negara akhirnya hadir secara simbolik untuk menatap salah satu bab paling kelam dalam sejarah perburuhan Indonesia. Hal itu tercermin dalam peletakan batu pertama Rumah Singgah dan Museum Pahlawan Nasional Marsinah di Desa Nglundo, Kabupaten Nganjuk, Sabtu, 27 Desember 2025.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendampingi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam ziarah sekaligus peresmian awal pembangunan museum yang akan mengabadikan perjuangan Marsinah, aktivis buruh yang gugur dalam perjuangan menuntut keadilan pada awal 1990-an.

Pembangunan museum ini bukan sekadar proyek fisik. Ia menjadi penanda penting bahwa negara mulai merawat ingatan kolektif atas sejarah perburuhan yang selama bertahun-tahun berada di ruang sunyi, bahkan kerap dihindari.

Bacaan Lainnya

Khofifah menegaskan, museum Marsinah dirancang sebagai ruang nilai dan refleksi sejarah, bukan sekadar monumen.

“Yang kita bangun bukan hanya gedung, tetapi ruang nilai. Di sinilah generasi muda bisa belajar tentang keberanian, kejujuran, dan keberpihakan pada keadilan yang diteladankan oleh Ibu Marsinah,” ujar Khofifah.

Menurutnya, penghormatan terhadap pahlawan nasional tidak boleh berhenti pada ritual ziarah, melainkan harus diwujudkan melalui pelestarian nilai perjuangan yang relevan dengan kehidupan hari ini.

“Penghormatan kepada pahlawan tidak berhenti di makam. Kita harus merawat nilai perjuangannya dan menghadirkannya dalam kehidupan berbangsa,” tegasnya.

Usai peletakan batu pertama, Khofifah dan Kapolri melakukan ziarah ke makam Marsinah. Tabur bunga di pusara almarhumah menjadi simbol bahwa negara mengakui Marsinah sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah bangsa, termasuk sejarah pahit perjuangan buruh.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan, gagasan pendirian museum berasal dari keluarga Marsinah yang menginginkan adanya memorial yang benar-benar monumental dan bermakna.

“Perjuangan Marsinah begitu berat dan tidak boleh dilupakan. Museum ini akan menampilkan barang-barang peninggalan beliau, seperti surat perjuangan, buku harian, catatan pribadi, pulpen, pakaian, dan dokumen perjalanan hidupnya sebagai aktivis buruh,” jelas Kapolri.

Menurut Kapolri, keberadaan museum bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tetapi menjadi pengingat bahwa perjuangan buruh lahir dari ketidakadilan yang nyata.

“Marsinah membawa pesan besar tentang keberanian membela kebenaran. Semangat itu harus terus dijaga dan dilanjutkan agar buruh semakin sejahtera,” ujarnya.

Rangkaian kegiatan juga diisi dengan silaturahmi bersama keluarga Marsinah. Dalam suasana hangat dan penuh empati, pertemuan Perwakilan keluarga Marsinah, Marsini, menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah yang dinilai sebagai bentuk pengakuan atas perjuangan almarhumah.

“Terima kasih. Apa yang kami harapkan akhirnya terwujud. Dari tasyakuran keluarga hingga hari ini peletakan batu pertama museum dan rumah singgah,” ungkap Marsini.

Marsini berharap museum Marsinah tidak hanya menjadi ruang ingatan sejarah, tetapi juga memberi manfaat ekonomi bagi warga Desa Nglundo.

“Kami ingin desa ini berkembang sebagai desa wisata. Warga bisa membuka UMKM, menjual souvenir dan kaos Marsinah, sehingga masyarakat semakin sejahtera,” pungkasnya.***

Pos terkait