GAZA– Mediasi yang dipimpin Qatar, Amerika Serikat, dan Mesir untuk menghentikan konflik Israel-Palestina belum berhasil, sementara serangan udara Israel pada Ahad (18/8/2024) menewaskan 21 orang di Gaza, termasuk enam anak-anak, menurut otoritas Palestina.
Serangan tersebut menghantam sebuah rumah di Deir Al-Balah, menewaskan seorang ibu bersama enam anaknya. Hingga berita ini diturunkan, militer Israel belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden tersebut.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken, tiba di Tel Aviv pada Minggu (18/8) untuk memperkuat tekanan diplomatik dalam mencapai kesepakatan gencatan senjata di Gaza. Dilansir Arab News, langkah ini diharapkan dapat segera menghentikan kekerasan yang telah berlangsung sejak Oktober lalu.
Kunjungan ini merupakan kali ke-10 bagi Blinken ke kawasan Timur Tengah sejak konflik meletus. Pada Senin (19/8), Blinken dijadwalkan bertemu dengan sejumlah pemimpin senior Israel, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Setelah itu, ia dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Mesir.
Seorang pejabat senior pemerintahan Biden mengungkapkan bahwa negosiasi untuk mencapai gencatan senjata serta pembebasan sandera yang ditahan di Gaza sudah berada pada “titik krusial.” Blinken akan menegaskan kepada semua pihak pentingnya segera menyelesaikan kesepakatan ini. “Kami percaya ini adalah waktu yang sangat kritis,” ujar pejabat tersebut.
Kesepakatan yang Rumit
Di Rumah Sakit Al-Aqsa, Deir Al-Balah, kerabat korban berkumpul di sekitar jenazah ibu dan enam anaknya yang terbungkus kain kafan putih. “Apa salah mereka? Apa yang telah mereka lakukan sehingga pantas menerima ini?” ungkap Mohammed Khattab, kakek dari anak-anak tersebut.
Militer Israel mengklaim serangan tersebut hanya menargetkan militan Hamas dan menuduh kelompok itu menggunakan fasilitas sipil sebagai perisai, tuduhan yang dibantah oleh Hamas. Setelah 10 bulan perang, warga Palestina di Gaza hidup dalam keputusasaan tanpa tempat berlindung yang aman.
Perang yang dimulai pada 7 Oktober ini telah menewaskan sekitar 1.200 orang Israel, sementara sekitar 250 orang Israel masih disandera oleh Hamas, menurut pemerintah Israel. Serangan balasan dari Israel telah menewaskan lebih dari 40.000 warga Palestina, sebagian besar adalah warga sipil, dan menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza. Israel mengklaim telah menewaskan 17.000 pejuang Hamas dalam operasi militer tersebut.





