Penyakit hati kronis kerap berkembang tanpa gejala. Kemenkes mengajak warga rutin memanfaatkan Cek Kesehatan Gratis agar risiko sirosis dan kanker hati bisa dicegah lebih awal.
Penyakit hati kronis masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Kementerian Kesehatan memperkirakan sekitar 70 juta penduduk mengalami penyakit ini, sementara banyak kasus baru diketahui setelah masuk tahap lanjut.
Secara global, penyakit hati kronis menyebabkan sekitar 2 juta kematian setiap tahun. Lebih dari separuhnya berkaitan dengan Hepatitis B dan Hepatitis C yang sering tidak terdeteksi hingga berkembang menjadi sirosis atau kanker hati.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan penyakit hati berbahaya karena berkembang perlahan tanpa gejala jelas. Karena itu, pencegahan dan pemeriksaan dini harus diperkuat.
“Penyakit hati kronis memiliki prevalensi yang tinggi. Karena itu kita harus memperkuat strategi promotif dan preventif,” kata Budi, Jumat (5/6/2026).
Skrining Masih Rendah
Budi mengingatkan masyarakat tidak menunggu sakit untuk memeriksakan diri. Menurut dia, banyak penyakit kronis berkembang bertahun-tahun tanpa keluhan berarti.
“Jangan merasa sehat lalu tidak mau diperiksa. Banyak penyakit kronis, termasuk penyakit hati, berkembang tanpa gejala selama bertahun-tahun,” ujarnya.
Saat ini, cakupan skrining hepatitis di Indonesia diperkirakan baru sekitar 10 persen. Angka itu masih jauh dari target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni 90 persen kasus hepatitis terdeteksi dan 80 persen mendapat pengobatan.
Masuk Program CKG
Kemenkes kini memasukkan skrining penyakit hati ke Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Pemeriksaan meliputi deteksi Hepatitis B melalui HBsAg dan penilaian fibrosis hati menggunakan metode APRI berbasis pemeriksaan darah.
Pemerintah juga memperkuat pencegahan melalui imunisasi Hepatitis B bagi tenaga kesehatan, pemberian antivirus bagi ibu hamil dengan Hepatitis B, serta kebijakan Nutri-Level mulai 2026 untuk membantu mengendalikan konsumsi gula, garam, dan lemak.





