Wamenkes Dorong Deteksi Dini TB dari Unair

Konsumsi Rokok di Indonesia
Wakil Menteri Kesehatan RI dr Benjamin Paulus Octavianus SpP FISR. - Humas Unair
Indonesia masih menanggung beban TB terbesar kedua di dunia. Wamenkes mendorong skrining aktif, termasuk penggunaan rontgen portabel di Jawa Timur.

Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mendorong deteksi dini tuberkulosis atau TB dilakukan lebih agresif. Langkah itu dinilai penting karena Indonesia masih menjadi negara dengan beban kasus TB terbesar kedua di dunia setelah India.

Dorongan itu disampaikan Benjamin saat menjadi narasumber kuliah tamu bertajuk “Deteksi Dini Tuberkulosis dan Permasalahannya” di Universitas Airlangga, Surabaya, Kamis, 21 Mei 2026.

Mengutip laporan WHO, Indonesia menyumbang sekitar 10 persen dari total kasus TB global pada 2024. Secara global, delapan negara menanggung dua pertiga kasus TB dunia.

Bacaan Lainnya

Benjamin mengatakan tantangan utama penanganan TB bukan hanya mengobati pasien yang sudah sakit, melainkan menemukan orang yang terinfeksi tetapi belum menunjukkan gejala. Kelompok ini berisiko tetap menjadi sumber penularan bila tidak terdeteksi.

“Selama ini yang diobati baru yang sakit. Padahal yang tidak bergejala jumlahnya juga tinggi,” kata Benjamin, dikutip Jumat, 22 Mei 2026.

Jawa Timur Disasar Skrining Aktif

Benjamin mengapresiasi capaian Jawa Timur dalam penanganan kontak serumah pasien TB. Dari seluruh anggota keluarga pasien TB yang diperiksa, sekitar 46 persen telah mendapatkan pengobatan. Angka itu disebut termasuk yang terbaik secara nasional setelah Banten.

Kementerian Kesehatan kini menyiapkan sejumlah strategi untuk mempercepat eliminasi TB. Upaya itu mencakup penguatan anggaran, pemeriksaan menyeluruh terhadap pasien terdiagnosis, serta penyediaan alat skrining berbasis rontgen portabel.

Wamenkes menargetkan Jawa Timur memiliki sedikitnya 100 alat skrining TB. Perangkat itu diharapkan dapat memperluas pemeriksaan di berbagai daerah, terutama pada kelompok berisiko dan warga yang memiliki kontak erat dengan pasien TB.

“Alat X-ray-nya portable, bisa dibawa ke mana-mana dan hasilnya langsung keluar. Kalau hasilnya baik dan tidak ada keluhan, pasien langsung mendapat terapi pencegahan TB. Kalau ada keluhan, akan langsung diterapi,” jelasnya.

Kampus Diminta Turun Tangan

Rektor Unair Prof Muhammad Madyan mengatakan TB masih menjadi tantangan serius bagi kesehatan publik. Menurut dia, pengendalian TB tidak cukup hanya bertumpu pada layanan pengobatan, tetapi harus melibatkan banyak sektor.

Pos terkait