Mengenal Patahan Semangko: Saksi Gesekan Dahsyat Lempeng Indo-Australia dan Eurasia

Ilustrasi tabrakan lempeng bumi. Foto:Canva

Bayangkan sebuah retakan besar yang membentang dari ujung utara hingga selatan Pulau Sumatera, seperti luka yang terus mengancam untuk terbuka kapan saja. Itulah Patahan Semangko, gejala geologi yang membentuk Pegunungan Barisan, sebuah jajaran gunung yang menghiasi sisi barat pulau ini.

Patahan Semangko yang membentang di Pulau Sumatera dari utara ke selatan, mulai dari Aceh hingga Teluk Semangka di Lampung. SS indonesia.go.id/WIKIPEDIA

Dengan panjang mencapai 1.900 kilometer, Patahan Semangko bukanlah sembarang retakan; ia adalah salah satu patahan paling aktif dan panjang di dunia, menjadi ancaman laten bagi Pulau Sumatera. Patahan ini, yang juga dikenal sebagai Sesar Sumatera Besar, tidak hanya merupakan garis tak kasat mata yang membelah Sumatera.

Laman Indonesia.go.id menyebut sesar ini adalah saksi dari gesekan abadi antara dua lempeng besar: Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Setiap kali kedua lempeng ini bertemu, energi yang terhimpun sering kali terlepas dalam bentuk gempa bumi, menghantam daratan Sumatera dan membuat masyarakatnya selalu siaga.

Sejarah Patahan Semangko dimulai jutaan tahun yang lalu, saat Lempeng Samudra Hindia-Australia mulai menabrak bagian barat Sumatera. Tabrakan ini tidak terjadi dengan mulus; ia menciptakan dua jenis tekanan yang bergerak ke arah berlawanan.

Bacaan Lainnya

Di satu sisi, ada gaya yang mendorong ujung Lempeng Hindia ke bawah Sumatera, sebuah gerakan vertikal yang menimbulkan gempa-gempa besar di sekitar zona subduksi. Di sisi lain, ada gaya horizontal yang menarik bagian barat Sumatera ke arah barat laut, menciptakan retakan panjang yang sekarang kita kenal sebagai Patahan Semangko.

Seperti luka yang tersembunyi, retakan ini tidak selalu terlihat di permukaan. Namun, di beberapa tempat seperti Ngarai Sianok di Bukittinggi, kita bisa melihat jejaknya dengan jelas. Usia Patahan Semangko memang terbilang muda dalam hitungan geologi, tetapi aktivitasnya yang sering memicu gempa membuatnya terkenal. Misalnya, gempa bumi yang meluluhlantakkan Banda Aceh pada tahun 2004 adalah akibat dari tekanan yang terhimpun di sepanjang Patahan Semangko ini.

Pos terkait