Tanah Bergerak Mengintai: 860 Rumah di Tegal Rusak, Pakar ITS Ungkap Tanda Awal dan Solusi Mitigasi

Tanah Bergerak
Salah satu tanda terjadinya rayapan tanah adalah munculnya pohon yang tumbuh tidak normal. - Info grafis Humas ITS
Indonesia yang beriklim basah dan banyak wilayah berlereng menghadapi ancaman serius tanah bergerak. Ratusan rumah rusak di Tegal dan Semarang, pakar ITS mengingatkan tanda awal yang tak boleh diabaikan.

Sebagai negara dengan curah hujan tinggi dan banyak wilayah berlereng, Indonesia menghadapi risiko besar terhadap fenomena tanah bergerak. Kondisi alam tersebut menuntut kesiapsiagaan masyarakat serta pengelolaan wilayah yang berkelanjutan.

Fenomena tanah bergerak ini seperti yang terjadi di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, serta di Kelurahan Jangli, Kota Semarang. Peristiwa tersebut dipicu hujan deras yang turun terus-menerus dan berdampak luas terhadap permukiman warga.

Peneliti senior dari Pusat Studi Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Amien Widodo, menjelaskan bahwa tanah bergerak merupakan bagian dari fenomena gerakan tanah yang berpotensi berkembang menjadi longsor.

Bacaan Lainnya

“Tanah bergerak adalah perpindahan massa tanah atau batuan, baik secara vertikal, horizontal, maupun miring dari posisi semula. Ini bisa berupa rayapan, aliran, maupun longsoran,” terangnya, dikutip Rabu (25/2/2026).

860 Rumah dalam Kawasan Risiko

Di Desa Padasari, tercatat lima dukuh terdampak dengan total 860 rumah dalam kawasan risiko. Sebanyak 413 rumah rusak berat, 189 rusak sedang, 97 rusak ringan, dan 164 lainnya masih dalam kondisi baik, namun tetap berpotensi terdampak.

Sementara itu, kejadian serupa di Semarang memaksa sebagian warga mengevakuasi barang dan mengungsi ke musala terdekat karena rumah tidak lagi layak huni. Warga berharap adanya relokasi demi keselamatan jangka panjang.

Fenomena ini bukan kejadian tunggal. Berdasarkan pengamatan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dalam tiga bulan pertama 2025 tercatat 31 kejadian pada Januari, 21 kejadian pada Februari, dan 37 kejadian pada Maret terkait tanah longsor dan tanah bergerak di berbagai wilayah Indonesia.

Beberapa kejadian signifikan antara lain di Kecamatan Sirampog, Brebes, yang berdampak pada lebih dari 130 kepala keluarga, serta di sejumlah wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur yang memaksa ratusan warga mengungsi.

Perubahan Tata Guna Lahan Jadi Faktor Kunci

Menurut Amien, perubahan tata guna lahan di kawasan perbukitan dan pegunungan menjadi salah satu faktor utama. Akar pohon di hutan alami berfungsi mengikat tanah dan bertindak sebagai jangkar alami. Pembabatan hutan, baik legal maupun ilegal, menyebabkan lereng menjadi kritis.

Pos terkait