Mengamalkan Puasa Bicara di Tengah Belantara Keributan Dunia Modern

Puasa bicara di tengah belantara dunia maya yang kian riuh dengan perdebatan-perdebatan absurd bisa membuat seorang mukmin selamat. (Ilustrasi SF)

Puasa Bicara di Tengah Perdebatan-Perdebatan Absurd

Tarekat puasa bicara adalah laku berpuasa yang dijalankan oleh pribadi-pribadi Muslim yang telah melampaui fase awam dalam beribadah. Meminjam istilah Prof. Nasaruddin Umar (2014), puasa bicara adalah puasa khawas al-khawash (sangat khusus).

Bacaan Lainnya

Laku puasa ini bukan sekadar untuk menjauhkan diri dari segala bentuk pembicaraan kotor atau keinginan mempergunjing orang lain—yang di zaman ini dapat dilakukan hanya dengan memencet tombol huruf di layar telepon pintar. Akan tetapi, juga menahan diri sekeras-kerasnya untuk tidak nyinyir dan membicarakan ihwal yang tidak perlu.

Lelaku puasa seperti ini sepertinya perlu dikerjakan oleh manusia-manusia zaman sekarang. Manusia-manusia yang hidup di tengah parade pergunjingan dunia maya yang makin hari kian riuh. Keriuhan ini kerap membuat kita “tersesat”.

Ketika kita membaca kabar di linimasa media sosial (medsos), boleh jadi awalnya kita tidak ingin menulis sesuatu, karena sebenarnya memang tak ada yang perlu diperbincangkan, tetapi akhirnya terpancing untuk nimbrung. Percakapan yang berhamburan di ruang maya—misalnya tentang isu yang sedang viral atau tentang perseteruan panas dua kelompok—sering membuat kita tergoda untuk berkomentar.

Hasrat melibatkan diri dalam perbincangan itu sungguh tak gampang  dijinakkan. Walhasil, kita pun ‘takluk’, menimbrungkan diri dalam percakapan-percakapan maya tersebut dengan sekadar memutakhirkan status di media sosial, misalnya. Atau dengan menyiarkan kicauan ringan. Atau mungkin malah langsung memosisikan diri sebagai penantang perdebatan. Padahal, belum tentu kita menguasai duduk perkara yang diperdebatkan.

Setelah terjun bebas ke dalam sungai kenyinyiran, tak jarang kita hanyut terlalu jauh. Perdebatan meluas ke mana-mana hingga menimbulkan perseteruan dan menyalakan kebencian—yang hari-hari ini hampir menjadi ‘kebiasaan’ warganet, terutama.

Oleh karena itu, godaan paling laten di bulan Ramadhan ini bukan lagi nafsu untuk makan dan minum, tetapi lebih dari itu: mempertahankan diri dari bujukan untuk berbicara yang tidak perlu di media sosial.

Agar terhindar dari keriuhan-keriuhan mubazir itu, laku puasa bicara merupakan pilihan paling bijak di tengah belantara percakapan ini.◼︎

Pos terkait