Mengamalkan Puasa Bicara di Tengah Belantara Keributan Dunia Modern

Puasa bicara di tengah belantara dunia maya yang kian riuh dengan perdebatan-perdebatan absurd bisa membuat seorang mukmin selamat. (Ilustrasi SF)

Penjelasan Buya Syakur senada dengan ulasan cendekiawan Muslim Jalaluddin Rahmat dalam Madrasah Ruhaniah (2008). Menurut Jalaluddin, tarekat puasa bicara yang dikerjakan oleh Maryam As.—sebagaimana dikisahkan QS. Maryam: 26—membuat ibunda Nabi Isa As. tersebut mampu mendengarkan suara bayi yang masih berada dalam kandungannya. Bayi itu pula yang kemudian menjawab hujatan banyak orang kepadanya.

Sufi besar abad ke-14, Sayyid Haydar Amuli (1319-1385)—sebagaimana dikutip Jalaluddin—berpesan bahwa, apabila seorang manusia terlalu banyak berbicara, ia tidak akan mampu menangkap isyarat-isyarat gaib yang datang kepadanya. Suara mulut manusia terlalu riuh, sehingga isyarat-isyarat yang datang dari alam malakut tidak dapat ditangkap oleh batinnya.

Bacaan Lainnya

Al-Quran juga mengisahkan bahwa tarekat puasa berbicara pernah ditempuh pula oleh Nabi Zakaria AS dalam QS. Maryam. Peristiwa itu berlangsung ketika Zakaria As. akan dikaruniai seorang anak, setelah bertahun-tahun menunggu datangnya keturunan hingga usianya renta.

Nabi Zakaria dikisahkan sukar memercayai kabar ihwal kehadiran anak yang kelak bernama Yahya As. itu, karena ketika itu usianya sudah sangat tua, sementara istrinya adalah seorang perempuan mandul.

“Apa tandanya, ya Allah?” Nabi Zakaria bertanya tentang apa tanda-tanda dia bakal dikaruniai keturunan.

Allah menjawab, “Tanda bagimu adalah kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam.” (QS Maryam [19]: 10).

Firman Allah itulah yang kemudian dipegang Zakaria As. sebagai perintah Tuhan untuk menjalankan puasa bicara, dengan tujuan mensyukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan kepadanya.

Puasa untuk tidak makan, minum, merokok, dan berhubungan suami istri ialah biasa, tetapi puasa bicara terkadang lebih berat. Dan menurut Buya Syakur—sebagaimana telah dijelaskan juga dalam Al-Quran pula—puasa bicara adalah “puasa khusus”.

Disebut khusus sebab, bagi kebanyakan orang, puasa bicara lebih sulit daripada puasa makan, minum, dan berhubungan suami istri. Coba kita renungkan, bukankah terkadang kita lebih mudah disuruh bicara daripada disuruh diam?

Pos terkait