Keluhan yang lebih parah datang dari masyarakat Desa Nonotbatan, Kecamatan Biboki Anleu. Theresia, salah satu warga Nonotbatan yang rumahnya terletak tidak jauh dari lokasi tower, ditemui pada Kamis siang, 23 Juni 2022, mengeluh bahwa sejak tower BTS Bakti Kemenkominfo selesai dibangun pada akhir 2021, masyarakat desa kesulitan menggunakan HP baik untuk telepon dan mengakses internet.
“Kalau tower Bakti mati, kami bisa pakai HP dan bisa akses internet. Tapi, kalau tower Bakti sudah hidup, kami susah sekali untuk telpon dan pakai internet. Anak-anak sekolah terpaksa harus ke Atambua,” keluh Theresia.
Karena itu, menurut Theresia, selama pandemi Covid-19, anak-anak sekolah SMP dan SMA hingga mahasiswa yang mengikuti kelas secara online terpaksa harus pergi ke Kota Atambua, yang berjarak 30 kilometer lebih lebih dari Nonotbatan.

Sementara itu, menara BTS Bakti di Pulau Semau, kampung halaman Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat, malah hanya jadi pajangan. Proyek yang dibangun pada tahun tahun 2021 itu belum berfungsi secara normal hingga kini—termasuk di Desa Letbaun, Kecamatan Semau Kabupaten Kupang. Tower ini dibangun bersamaan dengan di Desa Uiasa Kecamatan Semau dan Desa Uitiuhtuan, Kecamatan Semau Selatan.
“Padahal Menteri Kominfo Pak Johnny Plate sudah resmikan sejak 20 Desember 2021. Tetapi, sampai saat ini kami hanya nonton tower di depan kantor desa,” ujar Kepala Desa Letbaun Kecamatan Semau Carlens Herison Bising, Kamis, 12 Mei 2022.
Menurut dia, sejak Februari 2022, Bakti sudah melakukan uji coba, namun jaringan telekomunikasi di desa itu malahan semakin tidak normal. Carlens menambahkan, sebelumnya di Desa Letbaun hanya terdapat dua titik lokasi yang mendapat jaringan Telkomsel. Namun, sejak ada BTS Bakti, dua titik tersebut sering mengalami gangguan.
“Tower Bakti ini hanya bisa akses 4G. Tidak bisa telepon biasa. Isi pulsa atau cek pulsa juga tidak bisa. Sementara orang di desa lebih banyak HP biasa, bukan android. Hanya 4G, tapi hilang muncul. Bahkan lebih sering rusak. Jadi, kayak pajangan saja di situ,” ungkap mantan jurnalis media cetak Jawa Pos Group itu.
Dia mengatakan, tidak hanya hilang muncul, jangkauan jaringan 4G dari tower tersebut sangat pendek, tidak sampai 1.000 meter. Kehadiran tower tersebut bahkan belum bisa menjangkau seluruh desa itu.
“Kalau Bakti tidak bisa kelola, serahkan kepada pihak yang lebih berkompeten. Misalnya Telkomsel. Karena kami sudah bosan lihat petugas hampir tiap minggu keluar-masuk di lokasi tower untuk urus, tapi tidak ada perubahan. Malah makin rusak,” katanya.
Soal keluhan tersebut, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G. Plate pernah mengatakan jika problem itu dapat diatasi oleh operator seluler. “Kalau ditemui keluhan di masyarakat, tadinya sinyal kuat, tetapi begitu BTS Bakti dipasang menjadi lemah, yang bisa mengatasi itu adalah operator seluler melalui [curring] frekuensi. Karena yang punya spektrum adalah operator seluler,” jelasnya, dikutip dari Bisnis.com, Kamis, 27 Oktober 2022.
Menurutnya, Bakti bisa melaporkan kondisi tersebut kepada operator. Bila perlu, Menkominfo akan meminta langsung kepada direksi operator seluler untuk menambah bandwidth. “Kalau kurang juga [setelah Bakti melapor ke operator] adalah menteri meminta kepada dirut operator untuk menambah bandwidth. Karena ini semua komersial,” tegasnya.
Apakah memang sudah ada komunikasi antara Bakti Kemenkominfo dengan operator seluler, yang jelas, sampai Februari 2023, masalah sinyal setelah BTS Bakti berdiri masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan.
(Toni | Farhan)





