Stigma Negatif
Julukan nepo baby sendiri cenderung mengarah pada stigma negatif. Terutama jika mengingat istilah “nepotisme” berkonotasi negatif, yang berarti kekuasaan atau pengaruh untuk mendukung kerabat, teman, atau rekan, terutama dengan memberi mereka pekerjaan.
Nepotisme adalah praktik mengunggulkan seseorang—khususnya dalam hal pekerjaan—namun bukan semata-mata karena kemampuannya. Yang lebih ditonjolkan adalah identitasnya.
Nepo baby umumnya menggambarkan tokoh publik yang berhasil mengikuti jejak orang tuanya dan memiliki karier sukses di industri yang sama. Istilah tersebut diikuti stigma negatif, karena karier mereka dianggap hanya sukses berkat popularitas keluarga atau orang tua mereka.
Menurut Sosiolog UNS Drajat Tri Kartono, nepo baby mendapatkan prestasi atau bisa masuk dalam kelas sosial yang tinggi bukan karena kemampuan profesional yang dia miliki. Nepo baby bisa sampai pada level itu karena punya hubungan baik dengan orang-orang di sekitarnya, seperti orang tua, saudara, atau temannya.
Menurut Drajat, sistem nepotisme seperti ini sudah ada sejak zaman dulu, merasuk di berbagai bidang,terutama politik dan bisnis. Meski tampak negatif, kata Drajat, ada yang menganggap nepo baby lebih terpercaya dan lebih setia. “Kalau orang-orang ini setia, maka perlindungan terhadap penguasa ekonomi atau politik akan tetap terjaga,” katanya.
Drajat menyebut nepo baby merupakan kebalikan dari meritokrasi.
Meritokrasi adalah sistem yang memberikan kesempatan kepada seseorang untuk tampil berdasarkan kemampuan atau prestasinya. “Orang yang berprestasi dan bisa loncat ke atas karena kemampuannya begitu besar,” kata dia.
Menurut Drajat, saat ini ada banyak orang yang masuk kategori nepo baby. Namun, kendati mendapatkan posisi karena nepotisme, kata Drajat, bukan berarti dia tidak perlu melakukan usaha sama sekali agar bisa terus berada diu posisinya.
Nepo baby, katanya, memang mendapatkan akses di kelas atas dari orang terdekat. Akan tetapi, ketika sudah berada di posisi atas, orang itu tetap bersaing profesional untuk menunjukkan bahwa dia pantas di sana.
“Apakah ada yang full nepo baby atau full merit baby, kebanyakan saat ini adalah campuran,” tambahnya.
Drajat menyebut nepo baby juga perlu berusaha agar bisa tetap berada di posisinya. Jika tidak, dia akan mendapatkan hukuman sosial yang sangat besar. “Kalau nepo baby bisa menunjukkan kemampuannya di kelas atas, orang juga akan memberi pengakuan,” katanya.
Jadi, apakah julukan nepo baby yang disematkan Al-Jazeera terhadap Gibran itu tepat? Kita tunggu saja kiprahnya.*





