Setelah penembakan, sejumlah warga melaporkan menyaksikan sebuah benda terbang berbentuk lonjong seperti telur, berwarna putih bercahaya, melayang di atas pantai. Benda itu terbang rendah, mendekati sosok-sosok yang tidak mempan ditembak itu, lalu melesat dengan kecepatan tinggi ke arah timur dan menghilang ke tengah laut. Menurut kesaksian warga yang dikutip Salatun, dalam benda terbang itu tampak empat hingga enam sosok.
Dirahasiakan, Lalu Dicatat dalam Buku
Setelah insiden penembakan, otoritas setempat mengumpulkan warga dan meminta mereka tidak menyebarkan kisah ini kepada pers maupun publik luas. Insiden ini dinilai terlalu sulit dijelaskan dan berpotensi memicu kepanikan. Peristiwa itu pun perlahan terkubur.
Alwi Alnadad baru berani mengungkapkannya pada 1976, setelah 17 tahun menyimpannya sendiri. Dari situlah Jacob Salatun mendapatkan bahan untuk catatannya.
Dalam literatur ufologi internasional, peristiwa ini dikenal sebagai Alor UFO Incident 1959 atau Alor Incident — dan menjadi salah satu kasus yang dirujuk dalam kajian fenomena UFO di kawasan Asia Pasifik. Dalam terminologi ufologi, insiden ini dikategorikan sebagai Close Encounters of the Fifth Kind (CE-V): kontak yang melibatkan interaksi langsung antara manusia dan entitas yang diduga bukan berasal dari Bumi.
Salatun sendiri, yang dikenal luas sebagai “Bapak UFO Indonesia” dan termasuk pendiri LAPAN pada 1963, menyatakan keyakinannya pada keberadaan UFO hingga akhir hayatnya pada 3 Februari 2012 di Jakarta. Dalam sebuah surat kepada astrofisikawan J. Allen Hynek pada 1977, ia menulis bahwa fenomena UFO perlu dikaji secara serius demi alasan sosiologi, teknologi, dan keamanan nasional.

Hingga buku Salatun diterbitkan pada 1982, insiden Alor belum mendapatkan penjelasan ilmiah yang memadai. Tidak ada lembaga resmi yang pernah melakukan investigasi lanjutan atas peristiwa tersebut secara terbuka.***





