Suasana desa mencekam. Penduduk mengaku tidak berani keluar rumah setelah gelap.
Keesokan harinya, sebuah desa di sebelah timur Kota Kalabahi, Pulau Alor, diguncang kabar bahwa seorang warga diculik oleh beberapa sosok berpakaian biru gelap. Warga itu akhirnya dilepaskan dan dipanggil polisi untuk dimintai keterangan.
Dalam kesaksiannya kepada polisi — sebagaimana dicatat Alwi dan dikutip Salatun — warga tersebut menyebut bahwa ia diculik saat baru turun dari pohon enau. Para makhluk mengepungnya. Ketika ia berusaha lari, salah satu dari mereka mengacungkan tongkat silinder ke arahnya dan seketika ia merasa lumpuh.
Ia mengaku mendengar para makhluk itu berbicara satu sama lain dalam bahasa yang tidak ia mengerti. Salah satu dari mereka kemudian menunjukkan sebuah alat berbentuk elips mirip jam — bagian depannya terbuat dari bahan seperti kaca — dan memintanya melihat ke dalamnya. Di dalam alat itu, menurut kesaksian warga, tampak pemandangan berbeda dari yang ada di depannya. Tidak lama setelah itu, ia mengaku dibebaskan.
Sehari kemudian, seorang anak berusia enam tahun dilaporkan hilang dan ditemukan dalam kondisi ketakutan di sebuah ladang. Anak itu menceritakan bahwa ia dibawa ke tengah hutan dan menjalani sejumlah pemeriksaan yang ia sendiri tidak bisa menjelaskan. Ia juga mengaku ditawari makanan, namun menolak karena makanan itu tidak menyerupai apa pun yang ia kenal.
Ditembak Berkali-kali, Tidak Mempan
Ketika laporan terus mengalir dan situasi semakin menggelisahkan warga, Alwi Alnadad memutuskan bertindak. Ia memerintahkan sejumlah polisi bersenjata — termasuk yang dipersenjatai senapan otomatis jenis Bren dan Thompson — untuk bersiaga di titik-titik penampakan.
Sekitar tengah malam di bulan Juli 1959, sosok-sosok yang ditunggu itu muncul, berjarak hanya sekitar 13 meter dari aparat yang sudah bersiap. Polisi langsung melepaskan tembakan secara serempak.

Menurut catatan Alwi yang dikutip Salatun, tidak satu pun dari sosok-sosok itu roboh atau menunjukkan tanda-tanda terluka. Tidak ada darah di tempat mereka berdiri, meski diberondong dari berbagai sudut pada jarak yang sangat dekat. Yang ditemukan hanya pohon-pohon berlubang bekas peluru, beberapa pohon kecil yang roboh, dan jejak kaki yang tiba-tiba berhenti lima meter dari lokasi — lalu lenyap tanpa bekas.





