Makhluk Kebal Peluru di Alor: Insiden UFO Juli 1959 yang Lama Dirahasiakan

Di Alor, peluru dikisahkan menembus malam—tetapi misteri itu tak pernah benar-benar jatuh. ILUSTRASI AI GENERATE
Polisi menembak makhluk tak dikenal dari jarak 13 meter dengan senjata otomatis. Tidak ada yang terluka, tidak ada darah, tidak ada jejak. Ini bukan fiksi ilmiah — ini laporan resmi kepala polisi Kepulauan Alor, Juli 1959.

Pada awal Juli 1959, masyarakat Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), digemparkan oleh kemunculan sekelompok makhluk asing yang tidak bisa dilukai panah maupun peluru. Kepala polisi setempat, Alwi Alnadad, awalnya menganggap laporan itu tidak masuk akal. Namun ia tetap turun ke lapangan — dan mendapati sesuatu yang, bahkan setelah puluhan tahun, belum bisa ia jelaskan.

Peristiwa ini baru diungkap ke publik pada 1976, setelah Alwi pensiun dan berani berbicara di luar lingkaran dinasnya. Kisah tersebut kemudian diabadikan oleh Marsekal Muda TNI (Purn.) Jacob Salatun dalam buku UFO: Salah Satu Masalah Dunia Masa Kini (Yayasan Idayu, 1982) — satu-satunya catatan tertulis resmi tentang insiden ini yang tersedia hingga kini.

Penampakan Pertama: Makhluk Berseragam Biru

Menurut catatan Alwi sebagaimana dikutip Salatun, laporan pertama masuk dari sisi timur Pulau Alor. Warga melaporkan kehadiran makhluk dengan tinggi sekitar 1,80 meter, berkulit kemerahan, berambut putih bergelombang, bermata seperti manusia pada umumnya.

Bacaan Lainnya

Mereka mengenakan seragam biru gelap berlengan panjang berkerah tinggi, bersepatu bot hitam mirip sepatu militer, berikat pinggang dengan tongkat silinder logam berwarna abu-abu yang terselip di sisinya.

Ilustrasi penampakan makhluk yang dilaporkan sebagai alien di Alor. AI GENERATE

Penampilan mereka langsung mencurigakan bagi penduduk. Warga melaporkan bahwa para makhluk itu tampak sedang mencari sesuatu, tanpa tujuan yang jelas. Penduduk mengepung mereka, bahkan melepaskan panah. Namun, menurut laporan warga kepada polisi, tidak satu pun anak panah mampu melukai mereka.

Makhluk-makhluk itu kemudian melompat setinggi kepala manusia, berlari masuk ke pepohonan, dan menghilang. Warga yang mengejar tidak berhasil menemukan jejak satu pun — padahal, menurut laporan Alwi, mereka sangat mengenal wilayah tersebut.

Laporan dari Pulau Pantar: Enam Sosok di Malam Hari

Belum hilang keheranan polisi atas laporan dari Alor, laporan serupa masuk dari Pulau Pantar yang berada di sebelah barat laut Pulau Alor. Warga Pantar melaporkan enam sosok berpakaian biru tua muncul di malam hari, memasuki desa-desa seperti sedang mencari sesuatu. Salah satunya bahkan dilaporkan masuk ke halaman rumah warga dan membuka jendela.

Suasana desa mencekam. Penduduk mengaku tidak berani keluar rumah setelah gelap.

Keesokan harinya, sebuah desa di sebelah timur Kota Kalabahi, Pulau Alor, diguncang kabar bahwa seorang warga diculik oleh beberapa sosok berpakaian biru gelap. Warga itu akhirnya dilepaskan dan dipanggil polisi untuk dimintai keterangan.

Dalam kesaksiannya kepada polisi — sebagaimana dicatat Alwi dan dikutip Salatun — warga tersebut menyebut bahwa ia diculik saat baru turun dari pohon enau. Para makhluk mengepungnya. Ketika ia berusaha lari, salah satu dari mereka mengacungkan tongkat silinder ke arahnya dan seketika ia merasa lumpuh.

Ia mengaku mendengar para makhluk itu berbicara satu sama lain dalam bahasa yang tidak ia mengerti. Salah satu dari mereka kemudian menunjukkan sebuah alat berbentuk elips mirip jam — bagian depannya terbuat dari bahan seperti kaca — dan memintanya melihat ke dalamnya. Di dalam alat itu, menurut kesaksian warga, tampak pemandangan berbeda dari yang ada di depannya. Tidak lama setelah itu, ia mengaku dibebaskan.

Sehari kemudian, seorang anak berusia enam tahun dilaporkan hilang dan ditemukan dalam kondisi ketakutan di sebuah ladang. Anak itu menceritakan bahwa ia dibawa ke tengah hutan dan menjalani sejumlah pemeriksaan yang ia sendiri tidak bisa menjelaskan. Ia juga mengaku ditawari makanan, namun menolak karena makanan itu tidak menyerupai apa pun yang ia kenal.

Ditembak Berkali-kali, Tidak Mempan

Ketika laporan terus mengalir dan situasi semakin menggelisahkan warga, Alwi Alnadad memutuskan bertindak. Ia memerintahkan sejumlah polisi bersenjata — termasuk yang dipersenjatai senapan otomatis jenis Bren dan Thompson — untuk bersiaga di titik-titik penampakan.

Sekitar tengah malam di bulan Juli 1959, sosok-sosok yang ditunggu itu muncul, berjarak hanya sekitar 13 meter dari aparat yang sudah bersiap. Polisi langsung melepaskan tembakan secara serempak.

Peta Pulau Alor.

Menurut catatan Alwi yang dikutip Salatun, tidak satu pun dari sosok-sosok itu roboh atau menunjukkan tanda-tanda terluka. Tidak ada darah di tempat mereka berdiri, meski diberondong dari berbagai sudut pada jarak yang sangat dekat. Yang ditemukan hanya pohon-pohon berlubang bekas peluru, beberapa pohon kecil yang roboh, dan jejak kaki yang tiba-tiba berhenti lima meter dari lokasi — lalu lenyap tanpa bekas.

Setelah penembakan, sejumlah warga melaporkan menyaksikan sebuah benda terbang berbentuk lonjong seperti telur, berwarna putih bercahaya, melayang di atas pantai. Benda itu terbang rendah, mendekati sosok-sosok yang tidak mempan ditembak itu, lalu melesat dengan kecepatan tinggi ke arah timur dan menghilang ke tengah laut. Menurut kesaksian warga yang dikutip Salatun, dalam benda terbang itu tampak empat hingga enam sosok.

Dirahasiakan, Lalu Dicatat dalam Buku

Setelah insiden penembakan, otoritas setempat mengumpulkan warga dan meminta mereka tidak menyebarkan kisah ini kepada pers maupun publik luas. Insiden ini dinilai terlalu sulit dijelaskan dan berpotensi memicu kepanikan. Peristiwa itu pun perlahan terkubur.

Alwi Alnadad baru berani mengungkapkannya pada 1976, setelah 17 tahun menyimpannya sendiri. Dari situlah Jacob Salatun mendapatkan bahan untuk catatannya.

Dalam literatur ufologi internasional, peristiwa ini dikenal sebagai Alor UFO Incident 1959 atau Alor Incident — dan menjadi salah satu kasus yang dirujuk dalam kajian fenomena UFO di kawasan Asia Pasifik. Dalam terminologi ufologi, insiden ini dikategorikan sebagai Close Encounters of the Fifth Kind (CE-V): kontak yang melibatkan interaksi langsung antara manusia dan entitas yang diduga bukan berasal dari Bumi.

Salatun sendiri, yang dikenal luas sebagai “Bapak UFO Indonesia” dan termasuk pendiri LAPAN pada 1963, menyatakan keyakinannya pada keberadaan UFO hingga akhir hayatnya pada 3 Februari 2012 di Jakarta. Dalam sebuah surat kepada astrofisikawan J. Allen Hynek pada 1977, ia menulis bahwa fenomena UFO perlu dikaji secara serius demi alasan sosiologi, teknologi, dan keamanan nasional.

Buku UFO: Salah Satu Masalah Dunia Masa Kini yang ditulis oleh Jacob Salatun. FOTO: Istimewa

Hingga buku Salatun diterbitkan pada 1982, insiden Alor belum mendapatkan penjelasan ilmiah yang memadai. Tidak ada lembaga resmi yang pernah melakukan investigasi lanjutan atas peristiwa tersebut secara terbuka.***

Catatan redaksi: Artikel ini pernah dimuat di samudrafaktadotcom pada April 2024—ditayangkan ulang dengan berbagai perbaikan.


Daftar Rujukan:

Sumber Primer

  • Salatun, J. (1982). UFO: Salah Satu Masalah Dunia Masa Kini. Jakarta: Yayasan Idayu. (Bab “Tamu-tamu Ajaib Kebal Senjata di Pulau Alor, 1959”)
  • Salatun, J. (1960). Menyingkap Rahasia Piring Terbang. [Penerbit: belum terverifikasi — konfirmasi sebelum tayang]
  • Salatun, J. (1977, Februari). J. Salatun Communiqué #1 to J. Allen Hynek. Dimuat dalam: Sign Historical Group UFO History Workshop Proceedings I (1999). (Tersedia dalam arsip The Sign Historical Group)

Sumber Sekunder & Referensi Digital

Pos terkait