Maba 16 Tahun Lolos Unair, Quinsha Menangis Haru

Quinsha Sammy Al Huda. Dok.pribadi
Quinsha, 16 tahun, lolos SNBP 2026 ke Unair dan jadi salah satu mahasiswa baru termuda.

Pengumuman Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 menjadi momen emosional bagi Quinsha Sammy Al Huda. Remaja asal Kediri, Jawa Timur, itu menangis haru setelah dinyatakan lolos di program studi S1 Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (Unair).

Usianya yang baru 16 tahun menempatkannya sebagai salah satu mahasiswa baru termuda tahun ini.

Pencapaian tersebut menarik perhatian. Tidak banyak peserta SNBP yang berhasil menembus perguruan tinggi negeri di usia sangat muda. Quinsha bahkan mengaku sempat tidak percaya saat melihat hasil pengumuman yang dirilis pada Jumat, 3 April 2026.

Bacaan Lainnya

“Jujur saya kaget sampai menangis saat melihat pengumuman, apalagi Bahasa dan Sastra Inggris Unair adalah pilihan pertama saya,” kata Quinsha, Jumat (3/4/2026).

Perjalanan Akademik Lebih Cepat

Ketertarikan Quinsha terhadap bahasa Inggris bukan hal baru. Ia mulai menyukai bahasa internasional itu sejak SMP, lalu semakin mendalaminya saat SMA. Baginya, bahasa Inggris bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga jendela untuk memahami dunia yang lebih luas.

“Sejak SMP saya mulai interest belajar bahasa Inggris dan saat SMA saya merasa semakin cocok mendalami bidang ini karena merasa ada kedekatan personal dengan materi-materinya,” ujarnya.

Perjalanan akademiknya berlangsung lebih cepat dari kebanyakan siswa. Quinsha memulai pendidikan dasar pada usia lima tahun, lalu melanjutkan dengan program akselerasi saat SMP. Jalur tersebut membuatnya menyelesaikan pendidikan lebih dini dibandingkan teman sebayanya.

Pilihan menjadikan Bahasa dan Sastra Inggris sebagai prioritas utama disebutnya sebagai langkah sadar. Ia ingin mengasah kemampuan bahasa secara profesional sejak awal, sekaligus beradaptasi dengan standar literasi tinggi di lingkungan kampus.

Siap Hadapi Tantangan Kampus

Meski akan berkuliah di usia lebih muda, Quinsha tidak merasa gentar. Ia justru melihat hal itu sebagai tantangan. Lingkungan kampus yang dinamis dianggapnya sebagai ruang belajar untuk berkembang lebih cepat.

Ia mengungkapkan, kunci keberhasilannya menembus jalur SNBP adalah konsistensi belajar dan keaktifan di kelas. Menurutnya, disiplin mengikuti arahan guru menjadi faktor penting.

“Kuncinya rajin belajar dan aktif di kelas. Kalau guru menjelaskan, saya selalu mengikuti arahannya,” ujarnya.

Ke depan, Quinsha berencana aktif dalam organisasi kampus. Ia menargetkan bergabung dengan AIESEC Surabaya untuk memperluas jejaring internasional dan pengalaman lintas budaya.

Di akhir, ia menyampaikan pesan kepada pelajar lain. Ia menekankan pentingnya keberanian mengejar tujuan, bahkan di usia muda.

“Tetap semangat dan jangan pantang menyerah. Apalagi untuk sebuah tujuan besar, kita harus terus bergerak dan memberikan yang terbaik,” tuturnya. ***

Pos terkait