Kriminolog: Kematian Arya Daru Sarat Simbol dan Kejanggalan

Almarhum Arya Daru Pangayunan. Kriminolog menilai banyak yang janggal dalam peristiwa kematian diplomat muda ini | ILUSTRASI ini dibikin dengan AI - Samudrafakta
Kriminolog menilai kematian Arya Daru penuh dengan simbol dan rekayasa. Polisi bahkan dinilai kebingungan menangani perkara ini. Mereka bahkan berseloroh: bisa jadi polisi menunggu Presiden Prabowo pulang dari luar negeri untuk mengumumkan hasil penyelidikan.

__________

Kriminolog Universitas Indonesia, Haniva Hasna, meyakini kematian misterius Arya Daru Pangayunan (39) bukan sekadar kematian biasa. Ia menilai kuat dugaan adanya kejahatan simbolik.

Salah satu buktinya adalah lakban kuning yang melilit wajah korban. Menurut Haniva, warna kuning bukan lakban umum yang mudah dibeli di toko. 

Bacaan Lainnya

“Biasanya hanya dipakai untuk kebutuhan pabrik. Jadi, ini bukan lakban sembarangan,” ujarnya, dalam acara Catatan Demokrasi, Selasa (15/7).

Ia menyebut warna kuning ini menyiratkan simbol pembungkaman. “Lakban digunakan untuk menutup sesuatu. Bisa jadi maksudnya menutup informasi. Ini simbol. Ini pesan,” tegasnya.

Haniva menolak dugaan yang beredar di media sosial bahwa lakban itu bagian dari praktik fetish. Ia lebih melihatnya sebagai bentuk rekayasa pembunuhan yang disamarkan sebagai bunuh diri.

Menurutnya, tubuh korban ditemukan dalam posisi terlalu rapi. “Kalau seseorang kekurangan oksigen, tubuhnya pasti melakukan gerakan tak terkendali. Tapi ini rapi. Aneh,” kata Haniva.

Ia juga menyoroti potensi hilangnya bukti akibat banyaknya orang yang keluar-masuk kamar korban. Jejak kaki, sidik jari, bahkan rambut bisa hilang atau rusak.

Hal lain yang dianggap janggal adalah, penjaga indekos harus mencongkel jendela untuk memastikan kondisi korban, padahal kamar sudah menggunakan sistem smart door lock. “Harusnya bisa pakai master key. Kenapa malah dicongkel?” tanyanya.

Kriminolog UI lainnya, Adrianus Meliala, menilai polisi terlihat bingung. Ia heran, sudah lebih dari sepekan tapi polisi belum juga mengumumkan penyebab kematian Arya.

“Visum paling butuh dua hari. Tes lab, tiga hari. CCTV, satu hari. TKP sudah tiga kali diacak-acak. Jadi apalagi yang ditunggu?” kata Adrianus, Rabu (16/7).

Ia menduga polisi sudah tahu penyebab dan motif kematian, tapi belum mau menyampaikan karena alasan sensitif. “Mungkin karena korban diplomat, wajah negara. Enggak enak ngomongnya,” ujarnya.

Pos terkait