Kisah Para Kiai dan Wali Merestui Rokok: Syekhona Kholil, Mbah Wahab, hingga Habib Ali Solo

Habib Abdullah bin Muchsin al-Athas, Bogor

Al-Imam al-Quthb al-Aqthab al-Habib Abdullah bin Muchsin al-Athas, Maula Kramat, Empang, Bogor, juga punya kebiasaan merokok. Menurut santri yang pernah berkhidmat kepadanya, Habib Abdurrahman bin Ahmad Assegaf, rokok habib Abdullah bin Muchsin adalah rokok kawung.

Pernah satu kali murid Habib Abdullah, yaitu Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi dari Kwitang, mengunjunginya.Waktu itu Habib Abdullah baru saja mendapat hadiah rokok mahal dari pembesar Belanda. Melihat Habib Ali datang ke Empang, Habib Abdullah sangat senang, dan berkata, “Ya, Habib Ali, ini rokok mahal buat engkau,” sambil menyodorkan rokok malah dari pembesar Belanda itu.

Bacaan Lainnya

Kendati tidak merokok, Habib Ali mau tidak mau menerimanya sebagai bentuk sikap hormat, dan menaruh rokok pemberian itu di kantongnya. Lalu, Habib Abdullah bin Muchsin berkata, “Ya, Habib, mata ini, kalau tidak karena rokok,melihat manusia akan apa adanya. Mungkin kalau tidak merokok akan jadi susah manusia menemuiku. Supaya mereka bisa bertemu saya, ya saya begini (merokok—red.).”

Para wali Allah atau aulia memang ada yang suka merokok. Namun, selesai merokok mereka akan cuci tangan dan memakai wangi-wangian. Lebih-lebih kalau ingin buka kitab, mereka sampai menempelkan minyak wangi di bibir mereka.

Kiai Sya’roni Ahmadi, Kudus

Kiai Sya’roni Ahmadi adalah kiai dari Kudus, hafiz al-Qur’an, mahir dalam bidang tafsir al-Qur’an dan hafiz tujuh dialek al-Qur’an atau Qira’ah Sab’ah.

Tak sembarang ulama yang menguasai Qira’ah Sab’ah. Ini adalah salah satu disiplin ilmu langka. Jarang sekali ulama Nusantara yang menguasainya.

Kiai Sya’roni juga mahir dalam bidang ilmu balaghah, mantiq, badi’ ma’ani, fikih, tauhid, dan disiplin ilmu lainnya. Dia berguru kepada KH. Awani Amin al-Hafiz dan KH. Turaichan Adjhuri, seorang ahli falaq atau ilmu perbintangan, dan mengaji tafsir ke salah satu tokoh pendiri organisasi NU, KH. R. Asnawi Kudus.

Kiai Sya’roni juga dikenal sebagai “singa podium”, yang gaya ceramahnya berkiblat pada gurunya, KH. Turaichan Adjhuri dan KH. Bisri Mustofa—ayah Gus Mus Rembang.

Menurut Kiai Muhyiddin, yang pernah mewawancarai KH. Sya’roni Ahmadi, dikutip dari bolehmerokok.com, Kiai Sya’roni mengaku selalu membawa rokok dalam setiap aktivitasnya. Di tiap saku pakaian jas yang dikenakannya selalu tersedia rokok. Ia merokok sejak kecil, saat membantu orang tuanya berjualan tembakau.

Kiai Sya’roni pun sangat menghargai perokok. Sejak sakit dan tidak bisa keluar kamar sendiri, dia tidak lagi merokok. Tetapi, dia tidak akan meminta bantuan orang lain saat melihat orang yang akan dimintai tolong masih merokok—kendati sebenarnya ia sangat butuh bantuan. Setelah selesai merokok, baru dia minta tolong.

Suatu saat Kiai Sya’roni kontrol ke salah satu rumah sakit tulang terkemuka di Solo, Jawa Tengah, diantar dengan ambulans. Ada beberapa orang yang menemaninya dalam ambulans dan ber AC.

Ketika pulang dari kontrol, di jalan tol Semarang, salah satu pengantarnya berkata, “Mesti iki tersiksa, ora iso udud (tidak bisa merokok)”. Salah satu pengantar lainnya menjawab, “Inggih (Iya),” dengan sangat pelan, takut kedengeran Kiai Sya’roni.

Ternyata, kendati kedua pengantar itu berbicara dengan suara pelan, Kiai Sya’roni mendengarnya. Lalu dia menyuruh sopir cari tempat berhenti di jalan tol itu. Setelah berhenti, disuruhlah semuanya keluar dan merokok.

Kiai Sya’roni jugamembubuhkan tanda tangan pada sampul kitab karya Syaikh Ihsan Jampes Kediri. Kitab tersebut menjelaskan kedudukan hukum mengopi dan merokok. Saat menandatangani kitab itu, ia berkata, “Kitab iki iso gawe ma’khodz (kitab ini bisa dijadikan referensi) hukum merokok.”

Dan tegas ia mengatakan, “Jika ada kiai yang mengharamkan rokok, kasih kitab ini, yang saya tandatangani, atau ajak ke sini.”*

___FOTO: Ilustrasi. (Dok. Istimewa)

Pos terkait