Kisah Para Kiai dan Wali Merestui Rokok: Syekhona Kholil, Mbah Wahab, hingga Habib Ali Solo

Habib Ali bin Alawi bin Ali al-Habsyi, Solo

Para wali biasa menetralkan keadaan spritual mereka dengan tanawulul mubahat atau melakukan perbuatan-perbuatan yang mubah atau dibolehkan. Tujuannya agar mereka kembali kepada kekuatan manusiawinya (basyariyyah) sebagaimana manusia biasa.

Kadang seorang wali itu memilih cara untuk menutupi ketinggian derajat spiritualitasnya dengan berbuat hal-hal yang kontroversial, baik dari segi ucapan maupun tindakan.

Bacaan Lainnya

Salah satu ulama yang dipercaya sebagai wali, Habib Ali bin Alawi al-Habsyi dari Solo, punya kebiasaan yang bagi mayoritas habib dianggap tabu: merokok.

Sebagai informasi, mayoritas Bani Alawiy mengharamkan rokok, seperti Habib Abdullah al-Haddad, penulis Nashoihud Diniyyah yang terang–terang mengharamkannya. Selain itu, Husain bin Abi Bakar bin Salim juga mengharamkan rokok, hingga dia memborong seluruh tembakau yang ada di Hadramaut, Yaman, dan membakarnya .

Sementara Habib Ali dipercayai merokok untuk menutup derajat kewaliannya. Namun, justru rokok itu dipercayai memperkuat derajatnya yang tinggi.

Sayyid Alwi bin Ali al-Habsyi, Solo, salah seorang Putra Habib Ali, menceritakan, ”Abah itu perokok berat. Saat kami ziarah ke Hadramaut, ana bilang sama Abah: ‘Bah, tolong, untuk kali ini saja, selama di Hadramaut, Abah jangan merokok. Bukannya melarang, tetapi bagi para Sayyid, merokok di sini adalah aib.”

Habib Ali menjawab: ”Oh, begitu ya? Kalau memang Alwi pengin begitu, Abah siap. Ini rokok Abah simpan saja.”

Singkat cerita, sesudah sekian jam berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Habib Ali tidak lagi menyulut rokoknya. Padahal biasanya dia ngebul seperti lokomotif.

Setelah mendarat di Yaman, mereka meneruskan perjalanan menuju Sewun dengan mobil, menuju makam kakeknya, Imam Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi, yang merupakan penulis kitab Simthud Duror.

Di tengah perjalanan, mobil tetiba berhenti. Mogok, tidak mau jalan. Mesin pun dibuka, tetapi tidak ada yang salah. Bensin masih ada, aki masih bagus. Tetapi, setiap kali distater, mesin mobil tidak mau menyala. Satu jam, dua jam, begituterus.

Montir yang dipanggil pun kebingungan. ”Ini mesin enggak ada masalah, kenapa mobil tidak mau jalan?” si montir bertanya-tanya.

Sayyid Alwi mulai gelisah. Lebih gelisah lagi abahnya, yang dia lihat tampak tidak jenak duduknya di jok depan selama perjalanan. Sayyid Alwi kemudian berpikir: ”Ini pasti ada hubungannya dengan Abah. Abah tampak tidak nyaman.Mungkin sebabnya sudah satu hari menahan diri untuk tidak merokok.”

Sayyid Alwi pun menghampiri Abahnya: ”Abah, sudah, Alwi menyerah. Kalau Abah mau merokok, silahkan.”

Mendengar putranya berkata sepert itu, raut Habib Ali tampak riang. ”Kalau Alwi bilang begitu, baiklah. Sekarang Abah merokok dulu,” kata Habib Ali.

Begitu rokok Sang Habib menyala, asap mengepul dari sela-sela bibirnya, Sayyid Alwi berkata kepada sopir: ”Pak, coba sekarang stater mobilnya.”

Kontak diputar, mesin mobil pun langsung menyala.

Pos terkait