Kisah Para Kiai dan Wali Merestui Rokok: Syekhona Kholil, Mbah Wahab, hingga Habib Ali Solo

Bagi sebagian ulama atau kiai, merokok tidak menyalahi aturan agama. Maka dari itu, banyak kiai, bahkan wali, yang gemar mengisap lintingan tembakau dicampur cengkeh itu, di sela-sela rutinitasnya mengajar santri.

Bagi ulama golongan ini, merokok tidak hanya bermakna relaksasi, tetapi lebih dalam daripada itu, di mana rokok diyakini menjadi wasilah atau perantara berzikir. Kadang rokok juga diyakini bisa mengajarkan untuk berpikir.

Siapa saja kiai atau wali itu? Berikut hasil penelusuran Samudra Fakta.

Syekhona Kholil, Bangkalan

Menurut cerita KH. Mujib Hasyim bin KH. Hasyim Jamhari, Pengasuh Ponpes Dzikrul Ghofilin al-Hasyimiyah Danawarih, Balapulang, Tegal, Jawa Tengah, suatu saat para habib dan kiai sowan menghadap Kiai Kholil di Bangkalan,Madura. Mereka hendak menanyakan status halal-haramnya hukum merokok.

Bacaan Lainnya

Tetapi, sebelum sempat bertanya, Mbah Kholil yang baru keluar menyambut para tamu tiba-tiba berkata, “Wayusannu ba’da an ta’kula an ta’duda,” yang berarti, “Setelah makan disunnahkan untuk udut (merokok).”

Sontak para tamu yang hadir kaget dan terdiam, tak jadi bertanya. Mereka semua tunduk menerima dan paham atas pernyataan singkat Mbah Kholil tersebut.

Kiai Wahab Chasbullah, Jombang

Salah satu kiai sekaligus tokoh bangsa yang gemar merokok adalah Kiai Wahab Chasbullah—salah satu pendiri Jam’iyatul Nahdlatul Ulama (NU) yang punya kontribusi besar bagi bangsa Indonesia.

Kiai Wahab pernah memanfaatkan “diplomasi rokok” ketika berkunjung ke kediaman Adviseur voor Inlandsche Zaken, Van der Plaas, untuk mengurus izin pelaksanaan Muktamar ke-4 NU di Semarang pada 1929. Momen tersebut ditulis oleh Abdul Mun’im D.Z. dalam Fragmen Sejarah Nahdlatul Ulama: Menyambung Akar Budaya Nusantara.

Kiai Wahab mengobrol santai dengan orientalis terkemuka tersebut sembari menikmati kopi dan menghisap rokok. Dari obrolan itu, Kiai Wahab berhasil membujuk Van der Plaas. Tak hanya soal izin muktamar, tetapi ia juga berhasil melobi untuk sejumlah persoalan lain.

Kiai Abdul Jalil Mustaqim, Tulungagung

Pernah Kiai Jamaluddin Jombang bersama seorang santrinya sowan kepada gurunya, yaitu Kiai Abdul Jalil Mustaqim di Tulungagung.

Di tengah perjalanan, Kiai Jamaluddin berpesan pada santrinya: “Le (Nak), kamu saya ajak sowan ke Romo Kiai Abdul Jalil. Beliau termasuk bagian dari wali Allah. Nanti, kalau di sana kamu tidak perlu banyak tanya, cukup dengarkan dawuh-dawuhnya.”

“Iya, Kiai,” jawab si santri.

Sesampai di kediaman Kiai Abdul Jalil, mereka berbincang-bincang cukup lama. Sementara Kiai Abdul Jalil menghisap rokok tanpa henti. Habis sebatang nyambung lagi, terus begitu sampai habis berbatang-batang.

Melihat pemandangan di depannya, santri Kiai Jamaluddin bertanya-tanya dalam hati, “Katanya kiai ini seorang wali? Dari awal saya bertamu, sampai sekarang, rokoknya kok ngebut? Habis satu, langsung nyulut, habis lagi nyulut lagi tanpa henti. Di mana letak kewaliannya? Ah, kayaknya tidak mungkin wali!”

Namun, pertanyaan dalam hati si santri tersebut langsung dijawab spontan oleh Kiai Abdul Jalil, yang seolah-olah sedang bicara dengan Kiai Jamaluddin: Kiai Jamal, lebih baik merokok tapi selalu ingat Allah, daripada tidak merokok tapi suka ngurusin orang lain yang sedang menikmati rokok, hatinya lalai pada Allah.”

“Njih, leres Kiai” (Ya benar, Kiai), jawab Kiai Jamaluddin 

Pos terkait