Pembajakan Buku dan Tantangan Era Digital
Karakteristik digital menimbulkan dilema bagi industri perbukuan nasional. Peluang bisnis baru terbuka lebar. Akan tetapi, di sisi lain, pelaku industri dihadapkan pada tantangan praktik ilegal alias pembajakan yang kompleks.
Pembajakan merupakan residu bagi industri perbukuan. Mirisnya lagi, dalam hukum Indonesia, pembajakan berasaskan delik aduan. Karena itu, penerbit harus melaporkan temuan pelanggaran sebelum ada pemrosesan hukum.
Langkah digitalisasi pun sampai hari ini juga belum menjanjikan bisa menjadi jalan keluar. Persoalannya adalah, buku-buku tersebut tidak menemukan pembacanya di dunia digital. Sementara di dunia cetak, penjualannya itu sudah semakin tergerus.
Era digital membuat dunia perbukuan perlu bersaing dengan pembuat konten yang lebih menarik, seperti audio dan video. Minat baca masyarakat Indonesia yang rendah membuat konten-konten tersebut lebih digemari.
Sedikitnya waktu yang diluangkan masyarakat untuk membaca buku sesungguhnya sudah terasakan sejak tahun 2016 dan 2017. Saat itu, mulai banyak konten video dan audio bertebaran di internet. Hal ini dinilai cukup mengganggu minat baca, pemasaran, dan penjualan buku di Indonesia.
Data Perpustakaan Nasional RI menunjukkan, tingkat kegemaran membaca masyarakat sebesar 63,90 persen pada 2022 dengan durasi 1,6 jam (98 menit) per hari dengan lima bahan bacaan per tiga bulan. Sementara itu, laporan We Are Social pada triwulan III-2022 menemukan, rata-rata waktu yang dihabiskan masyarakat Indonesia berselancar di media sosial adalah 3,3 jam (198 menit) per hari setara dengan 23,1 jam (1.386 menit) setiap pekannya.
Mengutip laporan analisis internal perusahaan induk media sosial, Meta, per Februari 2022, lebih dari 50 persen waktu pengguna Facebook dan Instagram dunia dihabiskan untuk menonton video. Dalam laporan pendapatan Meta triwulan III-2022, lebih dari 140 juta video di Instagram dan Facebook ditonton setiap harinya.
Tekanan terhadap penerbit dan toko buku pun terus terjadi meskipun keduanya telah mengambil langkah-langkah digitalisasi. Penerbit telah menerbitkan buku digital dan menjual lewat lokapasar. Namun, penjualan buku digital belum bisa mengompensasi penurunan penjualan buku cetak.
Harga buku digital cenderung lebih murah. Banyak komponen dalam harga buku cetak yang hilang, seperti komponen distribusi. Ini yang orang sering lupa, digitalisasi membuat buku jadi murah. Maka, bagi penerbit, (digitalisasi) membuat bisnis tidak sustainable. Sementara itu, biaya operasional seperti pegawai dan pemeliharaan terus meningkat.
Industri perbukuan tanah air benar-benar dibelit persoalan pelik, mulai dari hulu hingga hilir. Kondisi semakin terasa menghimpit ketika negara tidak begitu antusias dan serius untuk hadir dalam menyelamatkan industri perbukuan.♦





