Menurut salah satu pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang, KH. Abdussalam Sohib—yang akrab dipanggul Gus Salam—Mbah Bisri itu mempunyai jiwa khodim atau pelayan pada siapa pun, termasuk kepada Mbah Wahab.
Kendati Mbah Wahab dengan Mbah Bisri tak jarang berdebat keras hingga memukul-mukul meja ketika bermusyawarah untuk memutuskan hukum atau keputusan organisasi, setelah debat dan musyawarah selesai, mereka berdua rebutan saling melayani. Mereka saling berebut untuk menimbakan air untuk wudhu maupun mengambilkan makan.
Bila keduanya sedang berjalan bersama, Mbah Bisri tak pernah mengambil posisi sejajar dengan Mbah Wahab. Dia tetapimengambil posisi lebih ke belakang, kira-kira 0,5 – 1 meter. Mbah Bisri juga tidak mau menjadi imam shalat selagi ada Mbah Wahab dalam jamaah—kendati Mbah Wahab sendiri memintanya.
Setelah Kiai Hasyim meninggal, jabatan Rais Akbar NU otomatis lowong. Jam’iyah waktu itu menilai, Mbah Wahablah yang pantas mengisinya. Namun demikian, Mbah Wahab menolak. Menurut Mbah Wahab, jabatan Rais Akbar hanya pantas bagi Kiai Hasyim. Sebagai bentuk penghormatan terhadap Mbah Hasyim, maka jabatan Rais Akbar di NU pun diganti dengan Rais ‘Aam.
Pada Muktamar NU di Bandung, tahun 1967, muktamirin bermaksud memilih Mbah Bisri Syansuri sebagai Rais ‘Aam karena Mbah Wahab sedang sakit keras. Sebagian muktamirin juga menganggap Mbah Wahab sudah sudah terlalu uzur, sehingga beberapa muktamirin merasa kasihan jika Mbah Wahab dibebani tanggung jawab tersebut.
Namun, begitu ada usulan bahwa muktamirin hendak memilihnya sebagai Rais ‘Aam, Mbah Bisri langsung naik di atas podium dan berkata lantang: “Saya tidak bersedia dicalonkan maupun dipilih menjadi Rais ‘Aam selagi KH. Wahab Chasbullah masih ada.”
Pernyataan Mbah Bisri tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap Mbah Wahab—seniornya yang empat tahun lebih tua itu.
Mbah Bisri, saking tawaduknya, sangat sedikit dokumentasinya. Mbah Bisri tidak suka dipublikasikan. Menurut Gus Salam, itu karena karakter Mbah Bisri, yang mencermikan jiwa pelayannya kepada siapa pun.
“Tidak ada foto Mbah Bisri yang menghadap kamera. Semuanya candid, jarang foto sendirian. Mbah Bisri agak menutup diri untuk publikasi,” tutur Gus Salam.
Dan menurut Gus Salam Sohib, Mbah Bisri Syansuri menjadi jauh lebih bijaksana—tak begitu keras lagi—setelah Mbah Wahab wafat.—bersambung—





