Ketika Dunia Merayakan Ajaran Cinta Rumi, Pengobar ‘Bara Api’ Para Pecinta Tuhan

Dunia memperingati Hari Rumi setiap tanggal 30 September. Karya filsuf besar Islam ini banyak dijadikan acuan oleh orang-orang yang sedang berupaya menempuh jalan untuk kekosongan spiritual. Menjadikannya sebagai inspirasi untuk menata hidup menjadi lebih baik.

 

‘’Bila kau berziarah mengunjungi makamku,

Engkau akan melihat batu nisanku menari-nari …”

(Jalaludin Rumi, Mathnavi)

 

Nama Jalaluddin Rumi begitu melekat abadi di hati banyak warga dunia. Karyanya membentang jauh melampaui batas-batas waktu dan geografis, menjadi sumbu perdamaian untuk semua.

Tujuh ratus lima puluh tahun setelah kematiannya, pemikir Persia ini tetap menjadi penyair terlaris di Barat, dihormati sebagai seorang darwis Islam di Timur, sementara pemikirannya yang cerdas menguasai kata kunci pencarian di internet.

Banyak orang yang terinspirasi oleh Rumi memanifetasikan ajarannya dalam berbagai karya seni, seperti seni lukis, tari, musik dan lainnya.

Museum Mevlana di Konya, Turki, tempat di mana jasad Jalaluddin Rumi dimakamkan. (Istimewa)

Untuk memperingati 800 tahun kelahiran Rumi, organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk pendidikan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan (UNESCO) menetapkan tahun 2007 lalu sebagai “Tahun Rumi Internasional”.

Rumi dianggap sebagai salah satu tokoh-spiritual terbesar sepanjang masa karena pesan-pesan yang ia sampaikan perihal cinta, kemanusiaan, dan perdamaian begitu menggedor sanubari masyarakat dunia. Kehidupan dan ajaran Rumi dirasa oleg banyak masyarakat dunia mampu mewakili nilai-nilai universal.

UNESCO menyebut Rumi sebagai, “salah satu filsuf dan sastrawan besar yang dimiliki umat manusia”.

Jalaluddin Rumi, yang dikenal juga dengan nama Maulana, lahir di Balkh—sekarang masuk wilayah Samarkand—pada 6 Rabiul Awwal 604 H atau 30 September 1207.

Pada tahun 1981, tanggal 30 September—tanggal kelahiran Rumi itu—pernah ditetapkan sebagai Hari Perdamaian Internasional oleh Majelis Umum PBB. Saat itu berbarengan dengan momentum ketika Majelis Umum mengeluarkan Resolusi 36/67, yang mengharuskan gencatan senjata di seluruh dunia dan diakhirinya semua peperangan pada hari tersebut.

Pada tahun 1982, PBB mengumumkan bahwa setiap hari Selasa ketiga di bulan September diperingati sebagai Hari Perdamaian Internasional. Waktu itu, hari Selasa ketiga di bulan September jatuh pada 21 September. Pada tahun itu juga, PBB menetapkan 21 September sebagai tanggal resmi perayaan Hari Perdamaian Internasional, dan untuk pertama kalinya dirayakan.

Perayaan tersebut menjadi penanda adanya langkah besar untuk ‘mempromosikan’ perdamaian dan mengangkat isu-isu tentang pentingnya upaya pemeliharaan perdamaian di seluruh dunia.

Dua puluh tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2001, Majelis Umum PBB dengan suara bulat memilih untuk menetapkan Hari tersebut sebagai periode tanpa kekerasan dan gencatan senjata.