“Agama Cinta”
Gagasan penting dari pemikiran Rumi ialah “agama cinta”. Islam yang diyakininya adalah Islam agama cinta itu. Rumi bisa menerima agama apa saja, asal prinsipnya cinta.
Haidar Bagir menjelaskan, Rumi tidak bermaksud untuk menyamakan semua agama, namun dia percaya bahwa semua agama prinsipnya sama—walaupun syariatnya berbeda-beda. “Seharusnya semua agama mengajarkan cinta dan kasih sayang,” kata Haidar.
“Inilah yang sering kita lupakan sekarang,” lanjut Haidar Bagir. “Agama itu seolah-olah sumber kebencian. Yang dimaksud agama di sini tepatnya keberagamaan, bukan agama itu sendiri. Agama juga disebu-sebut sebagai sumber konflik, kesombongan, dan politik identitas.”
Karena itu, menurut Haidar, ajaran yang dikembangkan Rumi sangat relevan dengan situasi sekarang, di mana dunia dipenuhi awan kebencian.
“Tidak hanya itu, kalau kita tidak mampu mengendalikan peradaban ini,” kata Haidar Bagir, “kita bisa sakit jiwa. Kita bisa terkena penyakit kecemasan, depresi, dan gangguan psikologis yang lain. Pemikiran yang ditawarkan Rumi sudah terbukti menjadi solusi dan penyembuh dari kerusakan mental yang dialami banyak orang hari ini.”
Haidar Bagir menyebut bahwa pemikiran-pemikiran Rumi sudah terkenal menyelematkan banyak orang dari mental disorder, yang disebabkan situasi peradaban masa sekarang.
“Ini yang membuat Rumi menjadi luar biasa,” tandas Haidar Bagir.
Koleksi puisi Rumi, yangi dinilai mampu menghunjam rasa dan sanubari, kini sangat populer di AS. Puisinya digunakan dalam perayaan-perayaan pernikahan. Sebanding dengan puisi karya Shakespeare karena nadinya yang kreatif.
Rumi wafat pada 17 Desember 1273 di Konya, dalam usia 66 tahun. Pada hari duka itu, jalan-jalan di Konya—kota yang terletak tidak jauh dari wilayah Kurdistan, dekat perbatasan Turki-Suriah-Irak, yang sekarang masuk wilayah Turki—dipenuhi oleh pelayat dari berbagai agama dan negara, mencerminkan masyarakat kosmopolitan yang hidup di Anatolia abad ke-13. Saat itulah pertukaran ide dan seni lintas budaya menjadi makmur.

Pada acara pemakamannya—di tempat yang sekarang dikenal sebagai Mevlana Museum, Konya—para pengikutnya, termasuk orang Yahudi, Kristen, dan Zoroaster, masing-masing membacakan kitab suci mereka sendiri.
Rumi mewariskan banyak karya, antara lain: Al-Majalis as-Sab’ah, Majmu’ah min ar-Rasa’il, Fihi Ma Fihi, Diwan Syams Tabrizi, Ruba’iyat dan Matsnawi.*