Kasus Tumbler Tuku Jadi Bukti ‘Cancel Culture’ Kini Bisa Menghancurkan Karier

Kasus hilangnya tumbler Tuku memicu gelombang ‘cancel culture’ yang berakhir pada pemecatan seorang pekerja swasta. Viralitas kini makin mudah menentukan nasib seseorang.
Alvin dan Anita Dewi menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. – Tangkapan layar video istimewa

Pakar: Viralitas Kini Bisa Menghukum Tanpa Proses

Guru Besar Psikologi UI, Prof. Rose Mini Agoes Salim, menyebut kasus ini sebagai representasi jelas dari cancel culture.

“Kecepatan viralitas di medsos bisa menawarkan solusi cepat, tetapi juga bisa berbalik arah. Bahkan mampu menghukum seseorang tanpa proses proporsional,” ujarnya, sebagaimana dikutip Republika pada Kamis (27/11/2025).

Bacaan Lainnya

Ia menilai budaya digital Indonesia kini semakin rawan memicu pembunuhan karakter tanpa verifikasi.

Prosedur KAI Tetap Dievaluasi

Sementara itu, PT KAI menyatakan sedang meninjau ulang prosedur penanganan barang tertinggal. Foto awal yang menunjukkan tumbler masih ada dalam tas saat ditemukan membuat publik mempertanyakan alur pemeriksaan.

Hingga kini belum ada penjelasan resmi mengenai di mana tumbler tersebut hilang.

Cancel Culture Masuk Dunia Kerja

Kasus ini memperlihatkan bagaimana cancel culture tidak hanya memengaruhi reputasi seseorang di media sosial, tetapi juga dapat berujung pada sanksi profesional. Tekanan viral terbukti mampu menggerakkan perusahaan mengambil keputusan cepat tanpa menunggu klarifikasi penuh.

Fenomena ini menandai fase baru relasi antara dunia kerja dan media sosial di Indonesia.***

Pos terkait