:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Anita-Dewi-penumpang-layanan-Commuter-Line-KRL-yang-curhat-kehilangan-bot.jpg)
Pakar: Viralitas Kini Bisa Menghukum Tanpa Proses
Guru Besar Psikologi UI, Prof. Rose Mini Agoes Salim, menyebut kasus ini sebagai representasi jelas dari cancel culture.
“Kecepatan viralitas di medsos bisa menawarkan solusi cepat, tetapi juga bisa berbalik arah. Bahkan mampu menghukum seseorang tanpa proses proporsional,” ujarnya, sebagaimana dikutip Republika pada Kamis (27/11/2025).
Ia menilai budaya digital Indonesia kini semakin rawan memicu pembunuhan karakter tanpa verifikasi.
Prosedur KAI Tetap Dievaluasi
Sementara itu, PT KAI menyatakan sedang meninjau ulang prosedur penanganan barang tertinggal. Foto awal yang menunjukkan tumbler masih ada dalam tas saat ditemukan membuat publik mempertanyakan alur pemeriksaan.
Hingga kini belum ada penjelasan resmi mengenai di mana tumbler tersebut hilang.
Cancel Culture Masuk Dunia Kerja
Kasus ini memperlihatkan bagaimana cancel culture tidak hanya memengaruhi reputasi seseorang di media sosial, tetapi juga dapat berujung pada sanksi profesional. Tekanan viral terbukti mampu menggerakkan perusahaan mengambil keputusan cepat tanpa menunggu klarifikasi penuh.
Fenomena ini menandai fase baru relasi antara dunia kerja dan media sosial di Indonesia.***





