Kapitayan, Agama Monoteisme Asli Nusantara yang ‘Difitnah’ sebagai Animisme-Dinamisme

Penganut Kapitayan juga mengenal ibadah tidak makan mulai pagi sampai malam, yang mereka sebut upawasa. Ibadah ini sama seperti ibadah shaum dalam Islam.

Penganut Kapitayan berpuasa dengan konsep dino pitu—atau puasa tujuh hari. Namun, dalam praktiknya, mereka hanya mengerjakan puasa di hari ke-2 dan ke-5 dalam sepekan, yang kemudian mereka anggap sama dengan puasa selama tujuh hari.

Bacaan Lainnya

Wali Songo pun meneruskan tradisi ibadah tersebut, namun disesuaikan dengan roh Islam yang mereka dakwahkan. Sebab, konsep upawasa dipandang memiliki kesamaan dengan puasa Senin-Kamis, di mana Senin adalah hari ke-2, dan Kamis adalah hari ke-5.

Dengan adanya banyak kesamaan itulah, Wali Songo memutuskan untuk menyebarkan Islam sembari meminjam istilah-istilah lokal yang sudah melekat di masyarakat yang mayoritas merupakan penganut Kapitayan. Wali Songo mencari kesamaan-kesamaannya, tanpa menghapuskan istilah-istilah yang telah melekat di masyarakat.

Para wali tetap menggunakan sanggar sebagai tempat ibadah. Hanya saja, untuk membedakan dengan konsep Kapitayan, mereka menambahkan mihrab sebagai pembeda dan mengubah namanya sedikit, dari “sanggar”  menjadi “langgar”.

Hingga saat ini, beberapa istilah ritual atau sarana peribadatan peninggalan Kapitayan masih lestari dan menyatu dalam agama Islam, seperti istilah sembahyang (sembah-Hyang), puasa (upawasa), pitutur (nasihat), pidato (pi-dha-Tumulang (mengajar menyampaikan ilmu pengetahuan), dan pidana (pi-dana).

Ajaran Kapitayan ini pun dimanfaatkan oleh Wali Songo untuk menyebarkan Islam di tanah Jawa. Upaya mendakwahkan Islam sembari tetap terkoneksi dengan ajaran Kapitayan ini menjadi salah satu faktor yang mendukung penyebaran Islam bisa berlangsung secara damai dan cepat di era Wali Songo.

Haidar Bagir dalam tulisannya, Islam dan Budaya Lokal dalam Perspektif Irfan (2), menyatakan bahwa bercampurnya unsur ajaran Islam dan budaya lokal tersebut—yaitu budaya Kapitayan—tidak mengubah substansi ibadah. Artinya, akulturasi budaya tidak mengubah syariat.

Sedangkan menurut Said Aqil Siradj, dalam bahasa agama Kapitayan adalah nihlah, atau sistem keyakinan yang konsep teologisnya masih belum sempurna.

Menurut Muhammad Nursamad Kamba, doktor tasawuf alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Islam yang tiba di Nusantara di masa-masa awalnya masih berupa software, sehingga kemudian kompatibel dan di-instal dalam nihlahbernama Kapitayan. Maka dari itu, jadilah Islam di Nusantara yang kita kenal sekarang ini.

Budayawan Emha Ainun Nadjib pernah mengatakan bahwa manusia Nusantara—seperti penganut Kapitayan—sebenarnya hampir bisa seratus persen mengetahui Tuhan. Pencapaian religiusitasnya tinggal sedikit lagi, di mana sisa yang sedikit itu harus Tuhan sendiri yang memberitahu manusia melalui Islam.

Artinya, ketika religiusitas Nusantara bertemu dengan Islam, itu ibarat tumbu yang ketemu tutup. Ibarat botol yang menemukan tutupnya. Lengkap sudah.

Maka dari itu, keliru sekali jika memahami Kapitayan sebagai aliran animisme atau dinamisme.

Pos terkait