Kala Sukarno Nyaris Jadi Korban di Hari Raya Kurban

Sehari sebelum kejadian, Kapten CPM Dahlan, Komandan Pengawal Istana Presiden, menemui Mangil Martowidjojo. Dahlan memberitahukan informasi penting bahwa akan ada usaha pembunuhan terhadap Sukarno saat Shalat Idul Adha.

Mereka berdua kemudian merancang pengamanan. Mangil menginstruksikan kepada anggotanya, baik yang bertugas dengan pakaian seragam maupun pakaian preman: “Tugas kamu melindungi diri pribadi Bung Karno, sebagai pagar hidup. Artinya kamu melindungi Bung Karno dengan badan kamu sendiri, sebagai perisai pelindung Bung Karno dari segala macam serangan,” kata Mangil, dalam buku Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967.

Mangil menempatkan anggota berpakaian seragam di enam pos di sekitar jamaah. Masing-masing pos terdiri dari dua anggota bersenjata AR-15. Anggota berpakaian preman berada di baris belakang Sukarno dengan posisi zig-zag. Mangil dan wakilnya, Sudiyo, berdiri persis di depan Sukarno, menghadap jamaah yang salat. Sementara itu, Dahlan menempatkan anggotanya pada pintu masuk untuk memeriksa setiap orang yang akan mengikuti salat.

Bacaan Lainnya

Setelah situasi terkendali kembali, Shalat Ied dilanjutkan. Idham Chalid masih sebagai imam. Selesai shalat dilanjutkan khotbah yang disampaikan Jenderal Nasution. “Kemudian saya naik ke mimbar membacakan khotbah,” kata Nasution.

Setelah khotbah, semestinya Sukarno memberikan sambutan, namun dibatalkan karena ada kejadian penembakan itu. Jamaah bubar dan diperiksa satu per satu. Yang tak mempunyai kartu penduduk terpaksa menjalani pemeriksaan lanjutan. Namun, semuanya dapat meninggalkan istana, kecuali penyerang yang sudah diamankan.

Setelah semua jemaah meninggalkan istana, anggota polisi menyisir dan menemukan sarung pistol dan sepucuk pistol FN 45 di bawah tikar alas salat, senjata sejenis yang dipakai pelaku penembakan. Sementara itu, Nasution menengok Sukarno dalam keadaan bugar.

“Saya laporkan bahwa kami telah selesai dan khotbah saya telah berlangsung selamat,” kata Nasution. “Respons beliau dalam bahasa Belanda: Je bent een ferme vent (kamu adalah seorang yang tegas).” Kepada Mangil, Sukarno menanyakan, “Ngil, anak buahmu berjasa besar sekali kepada Bapak. Lantas, bagaimana keadaan Soedarjat?”

“Soedarjat dan Soesilo telah dikirim ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan. Keadaan mereka tidak begitu mengkhawatirkan,” kata Mangil. Keduanya kemudian mendapatkan penghargaan dari Sukarno.

Pos terkait