_____
Upaya penembakan ini tak membatalkan jadwal rapat kabinet yang baru seminggu diganti: dari Kabinet Kerja II ke Kabinet Kerja III. Sukarno memimpin sidang di Istana Negara. “Kami lanjutkan dengan rapat kabinet inti, untuk mengesahkan pernyataan pemerintah tentang kebijakan ekonomi,” kata Nasution.
Melalui Radio Republik Indonesia, pemerintah memberikan keterangan resmi mengenai upaya pembunuhan terhadap Presiden Sukarno. Isinya: Presiden Sukarno selamat, korban luka lima orang, tiga di antaranya luka serius, sedangkan pelaku ditangkap. Berbagai media massa mengutip siaran pers tersebut.
Namun, kantor berita United Press International (UPI) di Singapura menyiarkan berita sensasional: Presiden Sukarno mati terbunuh waktu Shalat Idul Adha.
Walaupun berita itu kemudian diralat, tulis Rosihan Anwar dalam Sukarno, Tentara, PKI, kelompok kiri dan pendapat umum dengan keras menekan agar UPI dilarang bekerja di Indonesia. “Presiden rupanya setuju dengan agitasi golongan kiri. Maka kemarin (21 Mei 1962, red.) diputuskannya supaya kantor UPI di Jakarta ditutup,” tulis Rosihan.
Sanusi, pelaku yang tertangkap, mengaku sebagai anggota Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kartosoewirjo. “Oknum penembak berjumlah tiga orang, mereka berhasil masuk ke dalam Istana Jakarta dengan memegang kartu undangan masuk, yang mereka peroleh dari salah satu ormas,” kata Mangil.
Dari hasil pemeriksaan terhadap Sanusi, terungkap bahwa upaya pembunuhan terhadap Sukarno juga pernah direncanakan ketika salat Idul Fitri 1381 Hijriyah atau 9 Maret 1962.
Sanusi tahu dan ikut rencana itu setelah bersua dengan kenalan lamanya bernama Kadri. Oleh Kadri, dia diajak ke rumah Haji Machfud, di daerah Matraman Belakang, Jakarta. Di sana dia melihat sembilan anggota DI/TII yang mendapat perintah membunuh Sukarno pada Hari Raya Idul Fitri. Mereka adalah Dachya, Harun, Abudin, Kadri, Hidayat, Cholil, Hamdan, Anwar, dan Iding. Senjata yang disediakan dua pucuk senapan Carl Gustav, lima pistol, dan satu granat.





