Kala Sukarno Nyaris Jadi Korban di Hari Raya Kurban

Dua hari setelah pertemuan itu, mereka pergi menemui Jaya Permana, yang memberikan pondokan kepada beberapa anggota DI/TII. Sanusi mendengar percekcokan antara Iding dan Hidayat. Iding dituduh mengkhianati Dachya, Anwar, dan Cholil, sehingga mereka tertangkap. Penangkapan itu membuat rencana pembunuhan Sukarno di Hari Raya Idul Fitri, gagal. Abudin melaporkan kegagalan rencana pembunuhan itu kepada Marjuk bin Akhmad alias MD Nugraha alias Jiwa Praja, seorang pemimpin DI/TII di Gunung Galunggung, Jawa Barat.

Sementara itu, Sanusi bersama Kadri, Harun, Hidayat, Hamdan, menuju rumahnya di Kampung Ciranjang, Desa Pamejanan, Bogor. Abudin kembali dengan membawa surat perintah untuk menghabisi Kadri. Ternyata, yang berkhianat adalah Kadri, bukan Iding.

Sanusi membunuh Kadri di rumahnya pada 25 Maret 1962 pukul 01.00 WIB. Dua hari kemudian, dia dan Abudin pergi ke Gunung Galunggung. Marjuk memerintahkan Sanusi memimpin pembunuhan Sukarno pada saat Shalat Idul Adha.

Bacaan Lainnya

“Dia juga menerima empat lembar dokumen berisi pengumuman kemenangan Negara Karunia Allah Negara Islam Indonesia, yang harus diberikan kepada seorang jenderal,” kata Mangil. Marjuk tidak menyebutkan nama sang jenderal.

Sanusi mendapatkan kunci masuk istana berupa undangan dari Haji Bachrun yang tinggal di Bogor. Sanusi memutuskan yang menjadi eksekutor adalah dia, Harun, dan Hidayat. Sementara Hamdan dan Abudin ditugaskan mendengarkan radio hasil dari usaha pembunuhan itu.

Pada hari H, pukul 05.30 WIB, mereka berangkat menuju Harmoni, dekat Istana. Di sana mereka berbagi tugas. Sanusi menembak pertama sebagai tanda Harun mulai melepaskan tembakan ke arah Sukarno dan Hidayat melemparkan granat ke kerumunan yang sedang panik.

Harun masuk Istana dan mengikuti shalat. Akan tetapi, tiba-tiba dia disergap perasaan takut dan terharu akan beban pembunuhan yang harus dilakukannya. Dia membatalkan niat jahatnya dan menyembunyikan pistol FN di bawah tikar. Setelah shalat selesai, dia lolos dari penggeledahan. Dia menuju Kampung Pulo, Jakarta, bertemu Hidayat di sana. Kepada Hidayat, Harun mengaku tidak jadi menembak karena senjatanya macet.

Setali tiga uang dengan Harun, Hidayat malah membatalkan niatnya masuk istana. Dia membuang granat ke sungai Cisadane. Mendengar kegagalan pembunuhan Sukarno lewat radio, Hamdan dan Abudin juga segera melarikan diri. Mereka membawa serta istri Sanusi, Cici Sukarsih, melarikan diri ke daerah Cianjur.

Pos terkait