Kampung Pecinan Tambak Bayan di Surabaya telah eksis sejak sebelum 1930. Dari bekas kandang kuda kolonial hingga pentas Barongsai, kampung ini menyimpan kisah harmoni lintas generasi dan agama.
Di Surabaya terdapat kampung Pecinan yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda, tepatnya tahun 1930-an. Bahkan, keberadaan kampung tersebut masih eksis hingga sekarang. Kampung tersebut adalah Tambak Bayan, yang terletak di RT 2 RW 2, Kelurahan Alun-Alun Contong, Kecamatan Bubutan.
Menurut Suseno, salah satu pengurus kampung setempat, Tambak Bayan sudah ada sejak sebelum tahun 1930 dengan mayoritas profesi warganya sebagai tukang kayu kala itu.
“Sudah ada sejak sebelum tahun 1930. Dulu mayoritas warganya banyak yang jadi tukang kayu, ada juga yang jadi penjahit,” ujar pria yang kerap disapa Seno ini, Selasa (17/2/2026).
Seno mengungkapkan, saat ini kampung Pecinan Tambak Bayan dihuni sekitar 70-an kepala keluarga (KK) dan sudah sampai pada generasi kelima.
Bangunan Bekas Kandang Kuda Tahun 1866
Warga keturunan di Kampung Tambak Bayan sejatinya menempati satu bangunan besar yang digunakan sebagai kandang kuda pada zaman kolonial Belanda. Hingga kini, bangunan seluas 3.800 meter persegi tersebut masih berdiri kokoh. Padahal, bangunan tersebut didirikan sejak tahun 1866.
“Sudah ada sejak tahun 1866, tapi baru dihuni warga keturunan (Tionghoa) pada tahun 1930. Sampai sekarang belum pernah direnovasi. Nah, bangunan ini yang disekat-sekat jadi tempat tinggal warga, sedangkan ruang utama seperti hall di tengah difungsikan sebagai tempat pertemuan warga, semacam Balai RW,” terang Seno.
Bekas kandang kuda tersebut disekat menjadi rumah petak berukuran 4 × 6 meter persegi. Berimpitan dengan perabotan rumah seperti lemari, kasur, televisi, kompor, sepeda motor, dan lain-lain. Seno sendiri merupakan generasi ketiga yang mendiami bangunan tersebut.
Harmoni Lintas Agama
Yang menarik, warga keturunan Tionghoa di kampung ini tidak lagi didominasi satu agama. Mereka berasal dari berbagai latar belakang agama. Hal ini karena mereka secara turun-temurun telah menikah dengan warga pribumi.
“Banyak yang Islam di sini, tapi ya tetap sembahyang untuk leluhur kalau jelang Imlek. Bahkan setiap rumah warga di sini memiliki altar doa untuk leluhur, termasuk warga Tionghoa yang muslim,” jelas Seno.
Kehidupan sosial di Tambak Bayan mencerminkan perpaduan budaya dan keyakinan yang berjalan berdampingan tanpa sekat. Tradisi tetap dijaga, meski identitas keagamaan warganya beragam.
Semarak Imlek dan Tradisi Barongsai
Sepanjang dinding gang kampung semarak dengan adanya mural. Macam-macam gambarnya, didominasi ornamen naga dengan warna-warna cerah, mengubah tembok-tembok bangunan menjadi meriah.
Saat Imlek seperti sekarang, suasana di Kampung Tambak Bayan kian semarak dengan adanya berbagai ornamen khas Cina, seperti lampion, patung naga, hingga bunga plum.
Seno mengatakan, warga keturunan di Tambak Bayan mayoritas berada pada tingkat ekonomi menengah ke bawah. Hal ini tidak lepas dari sejarah nenek moyang mereka yang merupakan tukang kayu.
Meski demikian, warga setempat cukup antusias menyambut datangnya Tahun Baru Imlek. Ini ditandai dengan adanya pentas Barongsai saat puncak perayaan Imlek.
“Ada pentas Barongsai yang keliling kampung, ini sudah jadi tradisi kami. Bahkan pentas Barongsai di kampung kami selalu menarik perhatian pengunjung dari luar. Mereka pasti datang ke sini untuk nonton pentas Barongsai,” pungkasnya.***





