Insantara Rilis 14 Kandidat Kuat Ketum PBNU Jelang Muktamar Ke-35, Arus Perubahan Kepemimpinan Menguat

Nama-nama yang masuk dalam bursa Ketua Umum PBNU Jelang Muktamar ke -35 NU berdasarkan rilis Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara). - Istimewa
Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara) merilis 14 calon Ketum PBNU untuk Muktamar ke-35, merespons desakan akar rumput terkait transisi kepemimpinan dan penerapan sistem Ahwa.

Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) pada Juli hingga Agustus mendatang, dinamika pergantian pucuk pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) semakin menghangat. Menyikapi momentum strategis ini, Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara) merilis daftar 14 tokoh yang memiliki peluang besar untuk menakhodai PBNU di gerbang abad kedua organisasi keagamaan terbesar di dunia tersebut.

Selanjutnya, Peneliti Insantara, Wildan Efendy, memaparkan bahwa pihaknya menentukan nama-nama kandidat berdasarkan tiga aspek utama: tingkat popularitas, rekam jejak jalur sumber kandidat, serta hasil wawancara mendalam dengan pengurus dan warga NU.

Berikut adalah peta sebaran 14 kandidat potensial tersebut:

Bacaan Lainnya
  • Klaster PBNU: Prof. KH Nuh DEA, KH Yahya Cholil Staquf, KH Syaifullah Yusuf, dan KH Zulfa Mustofa.
  • Klaster PWNU: KH Abd Ghaffar Rozin, KH Abd Hakim Mahfudz, dan KH Juhadi Muhammad.
  • Klaster Tokoh NU & Pesantren: KH Imam Jazuli, KH Abdussalam Shohib, KH Yusuf Chudlori, dan KH Marzuqi Mustamar.
  • Klaster Politik & Pemerintahan: H Muhaimin Iskandar, H Nusron Wahid, dan Prof. KH Nasaruddin Umar.

Lebih lanjut, Wildan menyoroti bahwa transisi kepemimpinan kali ini membawa tanggung jawab besar bagi perbaikan tata kelola jam’iyyah. Tingginya aspirasi pengurus wilayah, cabang, dan warga kultural menjadi indikator utama keinginan lahirnya pemimpin baru.

“Desakan transisi kepemimpinan PBNU yang sangat kuat dari PWNU, PCNU, dan aspirasi warga NU menjadi salah satu indikator keinginan besar lahirnya nakhoda baru di tubuh PBNU. Kita mesti menjaga kesadaran ini sampai Muktamar ke-35 berlangsung, agar tercipta kepemimpinan baru PBNU yang lebih baik, berintegritas, dan sesuai dengan zaman di abad kedua NU,” tegas Wildan.

Sebagai puncaknya, Insantara juga menemukan data yang cukup mengejutkan terkait mekanisme pemilihan. Temuan menunjukkan 90% elemen NU menghendaki sistem Ahwa diterapkan penuh bagi Syuriyah dan Tanfidziyah di Muktamar mendatang

Pos terkait