Di Indonesia, kegelisahan ini mewujud dalam dua wajah besar. Muhammadiyah memilih jalan hisab, memahami kata “melihat” bukan sebagai aktivitas mata telanjang, melainkan sebagai proses “mengetahui” lewat ilmu. Di sisi lain, Nahdlatul Ulama tetap setia pada rukyah, meski mereka juga tidak menutup mata pada sains; hisab digunakan sebagai alat verifikasi yang sangat krusial.
Sering kali kita terjebak menyederhanakan masalah ini sebagai pertarungan antara “si rasional” melawan “si tradisional”. Padahal, itu keliru besar. Keduanya punya akar metodologi yang kuat. Ini bukan soal siapa yang lebih beriman, tetapi soal bagaimana mereka membedah sebuah hukum.
Maqashid Syariah dan Kepastian Waktu
Jika kita pinjam kacamata maqashid al-syariah—atau tujuan besar dari syariat—pertanyaannya jadi makin tajam: apa sebenarnya yang diinginkan agama dari penetapan awal bulan ini? Apakah sekadar aktivitas menatap langit, ataukah kepastian waktu agar hidup umat lebih tertib?
Kalau jawabannya adalah kepastian, maka hisab punya argumen yang sangat kuat. Ia tidak terpengaruh mendung atau hujan. Ia menawarkan kalender yang terencana jauh-jauh hari—sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh administrasi negara modern yang kompleks.
Namun, jika rukyah kita maknai sebagai bentuk kepatuhan total pada teks, di sana ada dimensi spiritual yang luar biasa. Mengamati hilal bukan cuma soal teknis penanggalan, tetapi cara manusia menghadirkan kesadaran kosmik: bahwa ibadah kita bergerak mengikuti denyut nadi alam semesta.
Menjaga Nyawa Syariat di Tengah Perubahan
Di sanalah ketegangan itu menetap. Antara kesetiaan pada bentuk lama dan pencarian makna baru. Antara teks yang statis dan konteks yang dinamis.
Mungkin, solusinya bukan soal memilih satu dan membuang yang lain secara mutlak. Tradisi intelektual Islam itu sangat kaya dengan pembaruan dan ijtihad. Hukum bisa saja berubah seiring berubahnya waktu, asal dilakukan dengan disiplin ilmu yang ketat, bukan sekadar ikut-ikutan tren.
Pada akhirnya, pertanyaan paling penting bagi kita hari ini bukanlah “siapa yang paling benar?”, melainkan: bagaimana kita menjaga nyawa dari syariat itu sendiri tanpa harus kehilangan arah di tengah perubahan zaman?
Menentukan awal bulan mungkin urusan teleskop dan rumus matematika. Namun, membaca zaman adalah soal kebijaksanaan hati. Kedewasaan kita sebagai umat sedang diuji di sini—bukan pada kesamaan tanggal merah di kalender, tetapi pada bagaimana kita tetap saling merangkul dalam perbedaan.***






1 Komentar
Komentar ditutup.