Perdebatan hisab dan rukyah bukan sekadar soal beda tanggal puasa, melainkan refleksi kedewasaan umat dalam menyelaraskan ketaatan pada teks suci dengan kemajuan ilmu pengetahuan modern.
Oleh: Mohamad Sholihin | Pemerhati Dinamika Pemikiran Islam Indonesia
Di tengah debat tahunan antara metode hisab dan rukyah, esai ini mengajak umat Islam untuk melihat perbedaan penetapan awal bulan bukan sekadar sebagai pertentangan teknis, melainkan sebagai ujian kedewasaan dalam menyelaraskan ketaatan teks suci dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
Perdebatan antara hisab dan rukyah itu ibarat tamu tahunan yang selalu mengetuk pintu kita. Ia datang setiap menjelang Ramadan, memanas saat Idulfitri sudah di depan mata, lalu perlahan sunyi begitu gema takbir berakhir. Namun, kalau kita mau menelisik lebih dalam, perbedaan tanggal ini sebenarnya menyimpan sebuah kegelisahan besar: bagaimana cara kita mendudukkan teks suci di tengah arus zaman yang terus berubah?
Nabi Muhammad ﷺ pernah berpesan, “Berpuasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya.” Bagi banyak kalangan, terutama dalam tradisi mazhab Syafi’i, perintah ini adalah harga mati. Ibadah itu tawqifi—sudah ditentukan jalurnya oleh wahyu. Di titik inilah rukyah berdiri tegak sebagai simbol ketaatan yang tulus pada teks.
Makna “Melihat” di Era Astronomi Modern
Namun, mari kita jujur, dunia tidak lagi sama dengan seribu tahun lalu. Astronomi hari ini sudah bisa menghitung posisi benda langit hingga sepersekian detik. Pertanyaannya pun bergeser: apakah “melihat” itu adalah tujuan inti, atau sebenarnya hanya “cara” untuk memastikan waktu?






1 Komentar
Komentar ditutup.