Harga plastik kian mahal, mahasiswa Unair hadirkan kemasan biodegradable dari limbah tebu sebagai solusi ramah lingkungan dan peluang ekonomi baru.
Kenaikan harga plastik sekali pakai mendorong lahirnya inovasi alternatif yang lebih ramah lingkungan. Tim mahasiswa Universitas Airlangga menghadirkan solusi berupa kemasan biodegradable berbahan limbah ampas tebu (bagasse) yang dinilai mampu menggantikan plastik dan styrofoam.
Inovasi ini dikembangkan oleh Abiddah Rahmatusshalihah, Nadya Orlyn, Hilya Idhar Mumtaz, dan Friscyllia Renindika A. Mereka mengolah limbah tebu yang selama ini kurang dimanfaatkan menjadi produk kemasan makanan yang kuat, aman, dan mudah terurai.
Produk tersebut diberi nama Terraware, yang dirancang sebagai alternatif kemasan ramah lingkungan di tengah meningkatnya biaya produksi berbasis plastik.
Alternatif di Tengah Harga Plastik Mahal
Ampas tebu memiliki kandungan serat alami yang kuat, tahan panas, dan dapat terurai dalam waktu relatif singkat. Dengan teknologi pengolahan tertentu, bahan ini diubah menjadi kemasan makanan yang:
- Biodegradable
- Tahan panas
- Tidak bocor
- Aman untuk makanan
- Bebas bahan kimia berbahaya
Produk ini cocok digunakan oleh restoran, kafe, katering, hingga kebutuhan aktivitas luar ruangan.
Abiddah menjelaskan, ide ini berangkat dari dua persoalan sekaligus: lonjakan sampah plastik dan mahalnya biaya bahan baku plastik.
“Plastik sekali pakai menjadi salah satu penyumbang sampah terbesar, sementara limbah ampas tebu sangat melimpah namun belum dimanfaatkan optimal. Terraware hadir sebagai solusi yang lebih ramah lingkungan sekaligus ekonomis,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Juara Kompetisi, Dorong Ekonomi Sirkular
Berkat inovasi tersebut, tim Unair berhasil meraih juara ketiga dalam ajang President Business Plan Competition Universitas Negeri Jember.
Lebih dari sekadar solusi lingkungan, inovasi ini juga membawa dampak ekonomi. Pemanfaatan limbah tebu menjadi produk bernilai tambah dinilai mampu mendorong ekonomi sirkular, membuka peluang usaha baru, serta menciptakan lapangan kerja di daerah penghasil tebu.
“Kami berharap Terraware tidak hanya mengurangi sampah plastik, tetapi juga memberi nilai tambah bagi petani tebu dan masyarakat sekitar,” tambahnya.
Dengan meningkatnya tren gaya hidup hijau serta dorongan pengurangan plastik sekali pakai, produk ini dinilai memiliki pasar yang luas, baik untuk konsumen individu maupun pelaku usaha kuliner.
“Produk ini bukan hanya alternatif kemasan, tetapi juga kontribusi nyata terhadap keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan di Indonesia,” tutupnya.***





