Guru Protes Aturan Insentif MBG: “Kami yang Nyuapi, Tapi Tak Dianggap”

Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di RA Miftakhul Ulum Petak, Sidoharjo, Susukan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. | Dok. Istimewa
Guru RA/TK Paling Berat Bebannya

Kritik lebih tajam datang dari para guru Raudhatul Athfal (RA) dan Taman Kanak-Kanak (TK). Mereka menilai tugas mereka jauh lebih berat dibanding guru di jenjang SD atau SMP, namun tetap disamaratakan dalam skema insentif.

“Guru RA/TK harus menyuapi anak-anak satu per satu karena tidak semua bisa makan sendiri. Jumlah siswa kami sekitar 60–70 orang, tapi beban kerjanya berlipat,” tegas Agus Mukhtar.

Hal serupa diungkapkan Ibu Napin, guru RA asal Kebumen, Jawa Tengah. Ia merasa aturan insentif itu sama sekali tidak menyentuh realitas lapangan.

Bacaan Lainnya

“Sepertinya BGN hanya mempertimbangkan keuntungan dapur MBG semata,” ujarnya. “Padahal, tanpa guru yang sabar dan telaten, anak-anak itu mungkin tidak akan makan dengan baik.”

FGSNI dan IGRA Akan Lakukan Protes

FGSNI menyatakan akan berkoordinasi dengan Ikatan Guru Raudlatul Athfal (IGRA) untuk menyampaikan protes resmi kepada BGN. Mereka menuntut revisi SE Nomor 5 Tahun 2025 agar menyesuaikan insentif dengan beban kerja dan tanggung jawab nyata guru.

“Kami akan meminta BGN meninjau ulang sistem insentif yang diskriminatif ini,” ujar Agus.

Para guru berharap pemerintah tidak hanya menghitung angka, tapi juga melihat sisi kemanusiaan di balik program besar seperti MBG — program yang idealnya bukan sekadar memberi makan, tetapi juga menghargai yang memberi kasih sayang saat anak-anak itu makan.***

Pos terkait