Gedung Grahadi Surabaya Ludes Terbakar, Sejarah 230 Tahun Ikut Hilang

Gedung Negara Grahadi sebelum terbakar. - Dok. Istimewa
Amarah massa di Kota Pahlawan beberapa hari lalu berujung kebakaran hebat. Ikon kolonial Surabaya kini hanya tersisa puing.

__________

Gedung Grahadi, bangunan bersejarah sekaligus rumah dinas Gubernur Jawa Timur, hangus dilalap api pada Sabtu, 30 Agustus 2025 malam. Api melahap habis bangunan megah berusia lebih dari dua abad itu, setelah aksi massa di pusat kota berubah menjadi kericuhan besar.

Asal-usul Grahadi tak bisa dilepaskan dari masa kolonial Belanda. Gedung ini berdiri tahun 1795 atas prakarsa Dirk van Hogendorp, Residen Surabaya.

Bacaan Lainnya

Awalnya berfungsi sebagai rumah jamuan pejabat Belanda dan elite Eropa, dengan gaya arsitektur Oud Holland Stijl. Balkon utamanya menghadap Kalimas, dikelilingi pepohonan rimbun dan bangunan pendukung di sisi timur serta barat.

Nama Grahadi diambil dari bahasa Sanskerta: graha berarti rumah, adi berarti utama. “Rumah Mulia” ini kemudian bertransformasi, terutama pada era Herman Willem Daendels.

Gubernur Jenderal yang ditunjuk Napoleon Bonaparte itu mengubah atapnya ke gaya Empire Style, simbol kemegahan penguasa yang bertahan hingga kebakaran semalam.

Sejak 1870, Grahadi ditetapkan sebagai kediaman resmi Residen Surabaya. Fungsinya berlanjut pada masa pendudukan Jepang, hingga setelah Indonesia merdeka menjadi rumah dinas Gubernur Jawa Timur.

Lokasinya yang strategis di Jalan Gubernur Suryo, Embong Kaliasin, menjadikannya ikon kota sekaligus simbol pemerintahan provinsi.

Kini, sejarah panjang itu tersapu api. Yang hilang bukan sekadar bangunan fisik, tapi juga jejak arsitektur kolonial yang melekat erat dengan perjalanan Surabaya. Kehilangan Grahadi menjadi peringatan keras: warisan budaya bukan hanya milik masa lalu, melainkan juga cermin identitas yang mestinya dijaga.***

Pos terkait