“Implementasinya dapat berupa elemen fisik pada ruang publik, misalnya pagar tinggi dengan bilah horizontal atau ujung tajam yang mengarah ke luar untuk menghambat intrusi,” rinci Rully.
Selain itu, imbuhnya, strategi defensif juga dapat diterapkan melalui penataan elemen ruang terhadap bangunan, seperti penggunaan kolam air yang mengelilingi bangunan sebagai penghalang fisik.
“Dalam konteks sejarah, beberapa bangunan pertahanan bahkan dilengkapi dengan parit berair yang diisi hewan berbahaya untuk meningkatkan fungsi perlindungannya,” urainya.
Sebagai alternatif pertimbangan desain, Rully mengenalkan konsep soft border (pembatas halus). Konsep ini memanfaatkan elemen yang lebih ramah seperti pagar tanaman, struktur transparan, atau kombinasi hiasan vegetasi.
“Pilihan soft border atau pagar dengan batas ketinggian yang terukur—misal sekitar 80 cm—tetap dapat memenuhi fungsi pembatas area tanpa memutus koneksi visual warga. Dengan begitu, fungsi keamanan tetap berjalan tanpa menghilangkan kesan terbuka dari sebuah fasilitas publik,” pungkas Rully. ***


