BATU–Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri mengamankan terduga teroris di Kota Batu, Jawa Timur. Diamankan di kawasan Jl. Langsep, Kelurahan Sisir, Kota Batu, pada Rabu malam (31/7/2023) lalu. Berikut sejumlah fakta yang dirangkum terkait penangkapan terduga teroris di Kota Batu.
1. Di rumah terdapat dua orang lain diamankan
Tersangka utama yang diamankan berinisial HOK (19). Bersama dia, rupanya ada dua orang lainnya di dalam rumah yang juga dibawa oleh kepolisian.
“Tiga orang ini sementara statusnya masih diamankan. Dia menyewa rumah selama 1,5 tahun,” kata Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol Dirmanto, dikutip Ahad (4/8/2024).
Ketua RT 1 RW 8, Kelurahan Lingsir, Kota Batu, Yulianto, menerangkan jika ketiga orang yang diamankan Densos itu masih satu kartu keluarga (KK) alias satu keluarga.
“Suami istri, dan anak, laki-laki dua orang, dan perempuan satu istrinya,” kata Yulianto.
Sementara itu, menurut informasi yang disampaikan Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko terduga teroris merupakan simpatisan daulah Islamiyah. Rencananya mereka akan melakukan bom bunuh diri di dua tempat ibadah di Kota Malang.
2. Penyelidikan Densus 88 Mabes Polri
Penangkapan terduga teroris di Kota Batu berawal dari penyelidikan Densus 88 Mabes Polri. Hal ini juga diakui oleh Polda Jawa Timur, yang mengawal proses pengamanan dan sterilisasi di lokasi rumah tempat tinggal terduga pelaku.
“Jadi, semenjak beberapa hari lalu Densus 88 Mabes Polri melakukan serangkaian penyelidikan di Kota Batu. Jadi ini masih dalam rangkaian penyelidikan kasus teroris,” ungkap Dirmanto.
Ketua RT 1 Yulianto menyatakan, kepolisian sudah mencari nama tersebut sejak sepakan lalu. Dia mengaku sempat diminta menunjukkan rumahnya, karena ketika dicek di data penduduk, ternyata memang ada nama yang dicari Densus 88.
“Kira-kira seminggu lalu disampaikan (informasi dicari terduga teroris), belum tahu (yang mencari) itu polisi. (Polisi itu datang ke Ketua RT) minta datanya, ada data warga, yang kebetulan ada datanya yang KTP itu (sama dengan yang dicari),” ungkap Yulianto.
3. Keseharian tertutup dan bercadar
Warga sekitar lokasi penangkapan mengaku jarang melihat aktivitas terduga teroris yang diamankan oleh Densus 88 Mabes Polri. Bahkan, selama menyewa rumah di lingkungan tersebut, mereka jarang berinteraksi dan tergolong tertutup.
“Selama ini (aktivitas ketiganya) tidak tahu. Tertutup orangnya. (Kerja apa) enggak tahu. Ngontrak di sini, yang punya (rumah) orang Jakarta,” kata Ketua RT 1, Yulianto.
Menurut Yulianto, penampilan mereka yang diamankan Densus 88 Mabes Polri agak berbeda dengan warga pada umumnya. “Yang perempuan mengenakan cadar dan laki-laki berjenggot panjang,” kata Yulianto.
“(Penampilannya) berjenggot panjang yang suaminya, istri pakai cadar. Tiga orang, satu anaknya,” ungkap dia.
4. Sterilisasi perumahan karena ada bahan peledak
Saat dilakukan penggeledahan sejak Rabu malam (31/7/2024), kepolisian mengamankan dan melakukan sterilisasi lokasi sekitar area perumahan. Sterilisasi di dilakukan karena polisi mensinyalir adanya bahan kimia yang digunakan membuat bahan peledak.
Sterilisasi kembali dilakukan sepanjang hari Kamis (1/8/2024) sejak pukul 07.00 WIB. Sejumlah petugas kepolisian dari tim Gegana Brimob Polda Jawa Timur bersiaga dengan senjata lengkap di lokasi.
Bahkan, beberapa warga yang berada di sekitar rumah juga diminta tidak beraktivitas di luar. Tampak beberapa warga diminta tetap berada di dalam rumah. Beberapa tukang yang sebelumnya beraktivitas di pembangunan rumah dihentikan dan diminta keluar area.
Wisatawan yang menyewa villa yang berjarak sekitar 10 meter dari rumah terduga teroris itu juga langsung diminta meninggalkan lokasi.
5. Cara unik memancing terduga teroris keluar
Yulianto, Ketua RT 1 RW 8 , awalnya diminta oleh salah satu anggota Densus 88 Mabes Polri yang menyamar untuk mengantarkan ke rumah yang bakal digerebek. Selanjutnya Yulianto mengaku diminta untuk memancing penghuninya, mengingat mereka selama ini dikenal tertutup dari warga.
“Saya diajak (oleh polisi itu), tapi saya ini mikir gimana cara masuknya? Dia tertutup orangnya,” kata Yulianto.
Yulianto akhirnya berinisiatif meminta iuran untuk kegiatan perayaan 17 Agustusan ke rumah yang ditinggali terduga teroris.
“Saya punya inisiatif momen 17 Agustusan, minta bantuan ke situ. Ketemu, (penghuni rumah) keluar. Saat itu responsnya baik. Istrinya keluar, yang laki-laki disuruh keluar, ngasihkan uang Rp50 ribu, setelah itu Pak Polisi pulang sama saya,” jelasnya.
6. Lokasi rumah berada dekat dari Mapolres Batu
Lokasi perumahan yang juga menjadi tempat tinggal terduga pelaku ini berjarak kurang lebih 1,5 kilometer dari Mapolres Batu dan Kantor DPRD Kota Batu. Jika ditempuh mengendarai sepeda motor, hanya perlu waktu lima menit.
Lokasi perumahan tergolong baru, karena dari informasi warga kampung, perumahan tempat di mana terduga teroris mengontrak itu baru ada sekitar tahun 2017. Bentuknya pun seperti perumahan klaster kecil, yang sebagian besar disewakan berupa vila dan rumah kontrakan.
7. Amankan sejumlah bahan pembuat bom
Proses penggeledahan di rumah terduga teroris dilakukan sejak pukul 08.45 WIB. Penggeledahan dan pengambilan barang bukti baru selesai pada Kamis siang (1/8/2024) sekitar pukul 13.45 WIB.
“Di TKP juga ditemukan peralatan pembuatan handak (bahan peledak). Yang ditemukan itu casing bom,” kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Dirmanto.
8. Kota Batu punya riwayat teroris kakap Dokter Azahari
Penangkapan terduga teroris di Kota Batu pada Rabu malam (31/7) mengingatkan penangkapan teroris kelas kakap, dokter Azahari, pada tahun 2005.
Jika ditarik mundur, di Kota Batu kala itu tim gabungan dari kepolisian juga menggerebek rumah persembunyian Azhari, gembong teroris paling dicari di Asia Tenggara. Pada penggerebekan 9 November 2005 itu, Azhari tewas ditembak mati, usai melakukan perlawanan ke polisi.
Lokasi rumah itu juga berada di kawasan villa, tepatnya di kawasan Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Kota Batu. Kesamaan lokasi tempat tinggal terduga teroris berada di villa-villa.*





