Dua Atlet Porprov Jateng Meninggal, Erick Minta Evaluasi Keselamatan

Atlet Porprov Jateng Meninggal Dunia
Menpora Erick Thohir. - Kemenpora

Erick meminta evaluasi keselamatan setelah dua atlet Porprov Jateng meninggal. Polisi masih menyelidiki penyebab kematian Ayudiah Rivana.

Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir meminta evaluasi menyeluruh terhadap perlindungan atlet setelah dua peserta Porprov XVII Jawa Tengah 2026 meninggal dunia.

Keduanya ialah pesilat Kota Semarang Ayudiah Rivana Tridiandinita dan atlet selam Kabupaten Jepara Syabilla Rizkia Putri Raharja.

Ayudiah, 19 tahun, meninggal pada Rabu, 28 Oktober, setelah menjalani operasi cedera jari. Syabilla meninggal saat mengikuti lomba open water finswimming, Ahad, 25 Oktober.

Bacaan Lainnya

Erick menegaskan kedua peristiwa memiliki kronologi berbeda. Ia meminta seluruh pihak menunggu hasil pemeriksaan sebelum menyimpulkan penyebabnya.

“Dua atlet muda kehilangan nyawa dalam satu ajang olahraga. Ini bukan sesuatu yang bisa kita anggap biasa.”

“Kita tentu tidak boleh terburu-buru mengambil kesimpulan mengenai penyebab kedua kejadian tersebut. Namun, kita juga tidak boleh berhenti pada ucapan belasungkawa.”

“Ada tanggung jawab besar untuk memastikan keselamatan atlet benar-benar menjadi prioritas, bukan hanya dalam aturan, tetapi juga dalam pelaksanaannya,” kata Erick.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangan Kemenpora yang dikutip kembali pada Senin, 2 November 2026.

Penyebab Kematian Ayudiah Masih Diselidiki

Ayudiah mengalami cedera jari ketika bertanding pada babak perempat final, Senin, 26 Oktober. Ia kemudian menjalani operasi di RS Primaya Semarang pada Selasa, 27 Oktober.

Polisi masih menyelidiki penyebab kematiannya, termasuk dugaan penggumpalan darah. Dugaan itu belum merupakan kesimpulan medis.

Dalam keterangan pada 1 November, polisi menyatakan akan meminta keterangan tambahan dokter. IDI Jawa Tengah juga menyebut belum menerima laporan spesifik yang memastikan penggumpalan darah. detik.com

Erick mendukung pemeriksaan yang objektif dan transparan. Ia berharap proses tersebut memberikan kejelasan kepada keluarga serta menjadi dasar perbaikan.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Saya kembali menerima kabar yang sangat menyedihkan dari Porprov Jawa Tengah.”

“Belum hilang duka kita atas kepergian Syabilla, kini kita kehilangan Ayudiah, atlet muda yang juga sedang berjuang membawa nama daerahnya.”

“Saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhumah. Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik bagi keduanya dan kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan,” ujarnya.

Evaluasi dari Persiapan hingga Pemulihan

Erick meminta KONI Jawa Tengah, penyelenggara Porprov, dan federasi cabang olahraga terkait mengevaluasi penerapan standar keselamatan.

Evaluasi mencakup kesiapan fasilitas, tenaga medis, prosedur darurat, serta pendampingan atlet yang membutuhkan perawatan lanjutan.

“Keselamatan atlet tidak hanya menjadi tanggung jawab ketika pertandingan berlangsung. Tanggung jawab itu harus mencakup seluruh proses, sejak persiapan, saat bertanding, hingga penanganan cedera dan pemulihan.”

“Kita perlu memastikan setiap atlet mendapatkan perlindungan dan penanganan yang layak. Jangan sampai ada celah dalam sistem keselamatan yang justru membahayakan mereka,” kata Erick.

Ia menekankan evaluasi tidak cukup berhenti pada Porprov Jawa Tengah. Seluruh penyelenggara kompetisi diminta meninjau kesiapan dan pelaksanaan perlindungan atlet.

“Kita ingin melahirkan atlet-atlet berprestasi dari berbagai daerah, tetapi prestasi tidak boleh dikejar dengan mengesampingkan keselamatan mereka.”

“Kehilangan Syabilla dan Ayudiah adalah duka bagi olahraga Indonesia. Kita harus menjadikan dua kepergian ini sebagai pengingat untuk melakukan perbaikan nyata.”

“Sebab, ukuran keberhasilan sebuah kompetisi juga termasuk dalam hal seberapa baik kita menjaga keselamatan setiap atlet yang berjuang di dalamnya,” ujarnya. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan