DPP PDIP Sebut Megawati Usulkan KAA Jilid II untuk Bahas Nasib Palestina

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. | Dok. Istimewa
DPP PDIP memeringati 70 tahun Konferensi Asia-Afrika dengan menggelar diskusi bertajuk “Dari Bandung untuk Dunia: Warisan Bung Karno untuk Asia-Afrika dan Keadilan Sosial Global”, di kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta, Sabtu, 26 April 2025. Salah satu narasumber sesi II adalah Sigit Aris Prasetyo, penulis buku “Dunia Dalam Genggaman Bung Karno”. | Tangkapan Layar Youtube DPP PDIP.

Jejak langkah perjuangan dan konsistensi Bung Karno membela Palestina itu direkam Sigit dalam bukunya, Dunia Dalam Genggaman Bung Karno.

“Ketika Israel memproklamirkan kemerdekaan pada 14 Mei 1948, Bung Karno dan para pemimpin bangsa sama sekali tidak mengakui legalitas kemerdekaan Israel. Bagi Bung Karno, Israel bukanlah negara yang sah, sebab merampas tanah rakyat Palestina,” jelas Sigit.

Ketika Presiden Israel Chaim Weismann dan Perdana Menteri Israel David Ben Gurion memberikan ucapan selamat atas kemerdekaan Indonesia,  dan berniat hendak membangun hubungan diplomatik dengan negara ini—kata Sigit—baik Bung Karno dan Bung Hatta meresponnya dengan dingin.

Bacaan Lainnya

Bung Hatta, yang ketika itu Perdana Menteri, hanya mengucapkan terima kasih atas surat-surat diplomasi dari Israel.

Dan ketika Indonesia menjadi tuan rumah pelaksanaan KAA di Bandung,  Jawa Barat, pada tahun 1955, Israel menjadi negara yang tidak diundang. Dari 29 negara-negara Asia-Afrika yang hadir, hanya Palestina yang statusnya belum merdeka.

Grand Mufti Palestina, Amin Husaini hadir mewakili Palestina ketika itu.

Pasca-KAA, dukungan Bung Karno kepada Palestina diwujudkan melalui medium olahraga. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1957—sebagaimana dikisahkan oleh Maulwi Saelan, salah seorang ajudan Bung Karno.

Ketika itu, Indonesia hanya tinggal selangkah lagi masuk ke ajang Piala Dunia. Indonesia berhasil mengalahkan Tiongkok.

“Indonesia hanya tinggal melawan Israel sebagai juara wilayah Asia Barat. Namun, Bung Karno melarang Indonesia bertanding dengan Israel. Sebab bertanding dengan Israel sama saja mengakui Israel sebagai negara merdeka dan beradulat. Itu sama saja mengakui Israel,” begitu kata Maulwi yang menirukan ucapan Bung Karno, sebagaimana dikisahkan Sigit.

“Begitu juga ketika Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games IV pada tahun 1962. Pemerintah Indonesia secara resmi tidak memberikan visa kepada delegasi Israel dan Taiwan,” pungkas Sigit.***

Pos terkait