Kata ‘nebeng’ mendadak viral di media sosial. Di media sosial X (dulu Twitter), lema ini sempat memuncaki trending cuitan warganet Indonesia, pada Selasa dan Rabu (17-18/9/2024). Menyentuh hampir 100 ribu cuitan.
Lema nebeng menjadi tren karena digunakan oleh Kaesang Pangarep dalam konteks yang ‘tidak umum’. Putra bungsu Presiden Jokowi yang juga Ketua Umum PSI itu datang ke KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (17/9) untuk menyampaikan informasi soal keberangkatannya ke Amerika Serikat menggunakan jet pribadi. Ia mengaku hanya nebeng jet pribadi milik temannya yang berinisial Y.

‘Nebeng’ dalam Kacamata Bahasa
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nebeng berarti ‘ikut serta (makan, naik kendaraan, dan sebagainya) dengan tidak usah membayar’. Karena itu, bila seseorang nebeng, pasti ke orang lain, ia dapat fasilitas gratis. Pihak yang ditebengi biasanya tidak mematok berapa ongkos yang mesti dibayar.
Istilah nebeng juga ditemukan dalam bahasa Inggris yang mana diterjemahkan dalam kata “Hitchhiking”, “thumbing”, “hitching”, “autostop”.
Namun dalam budaya Barat, nebeng biasanya diberikan kepada orang asing yang ingin meminta tumpangan dengan mobil atau kendaraan lain. Biasanya, tumpangan ini gratis, tetapi tidak selalu.
Menurut Vocabulary.com, Hitchhiking artinya mendapat tumpangan gratis dari mobil yang lewat. Meskipun memberikan tumpangan gratis kepada orang asing di jalan tapi hal ini lumrah dalam kultur budaya Eropa dan Amerika.
Dengan cara nebeng atau Hitchhiking, seseorang bisa lebih menghemat biaya perjalanan. Meskipun begitu ada beberapa aspek risiko yang mengintai, misalnya penculikan, tindak pelecehan hingga kekerasan fisik karena bertemu dengan orang asing.
Namun, benarkah bahwa menebeng di era sekarang pasti gratis? Masih adakah orang yang ikhlas ditebengi orang lain tanpa imbalan apa pun? Sejauh mana batas ‘keikhlasan’ seseorang untuk ditebengi?
Fenomena nebeng sebetulnya bukan barang baru. Sejak dulu, orang kerap menebeng teman atau saudara, atau kendaraan yang kosong, kebetulan arah perjalanannya sama. Namun, itu dulu. Sekarang, karena urusan ‘pernebengan’ itu semakin marak, khususnya di kalangan karyawan kantor, mulailah perkara tebeng-menebeng ini menjadi bisnis sampingan.
Misalnya biasa diterapkan dalam komunitas nebengers. Orang yang menebeng dikenakan tarif sesuai kesepakatan dengan pemberi tebengan.
Pernyataan Kaesang Memang ‘Agak Laen’
Diksi nebeng yang dipakai Kaesang sontak mengundang reaksi sekaligus mengingatkan pada bapaknya yang membedakan antara pulang kampung dengan mudik. Menurut Jokowi mudik dilakukan saat menjelang Idul Fitri sementara pulang kampung tidak terbatas pada momen itu.
Reaksi publik terhadap istilah nebang ala Kaesang pun beragam jenisnya, dari yang serius hingga bernada humor. Sebuah video parodi untuk menjelaskan kata nebang ala Kaesang langsung viral.
Seorang lelaki yang hanya mengenakan celana pendek sedang duduk santai di atas bagian sayap pesawat yang sedang terbang. “Nah itu baru nebeng,” caption yang menyertai video editan itu.
Akun centang biru @mulanbilqis pun mengomentari dengan sedikit serius. “Nebeng teman tapi temannya tidak ikut. Itu mah bukan nebeng namanya, tapi difasilitasi. Ada dan tidaknya temannya di rombongan itu menjadi kunci gratifikasi,” tulisnya.
Seperti kabar viral di media sosial itu, ada tiga orang yang bersama Kaesang naik jet itu. Yakni istrinya Erina Gudono, kakak istrinya, dan seorang staf Kaesang.
Jadi, teman Kaesang, bos SEA Group yang disebut-sebut berinisial Y, tidak ikut dalam perjalanan itu.
Warganet memandang penggunaan diksi nebeng itu ‘agak laen’ dan tak sesuai dengan realitas.
Dalam perdebatan di acara Rakyat Bersuara di Inews TV pakar komunikasi Effendi Gazali pun sampai harus membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring untuk menjelaskan kata nebeng. Kata ini berarti ikut serta (makan, naik kendaraan, dan sebagainya) dengan tidak usah membayar; menebeng.
Jadi, kalau yang punya kendaraan tidak ikut serta dalam rombongan makan namanya bukan nebeng, tapi meminjam atau dipinjami. Dalam konteks ini diduga sebagai gratifikasi kepada keluarga pejabat. Kaesang Pangarep adalah anak bungsu Presiden Joko Widodo.
Sementara, mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, melontarkan kritik tajam terhadap Kaesang Pangarep terkait polemik penggunaan jet pribadi dalam perjalanannya ke Amerika Serikat.
Dia menyoroti ketidakmampuan Kaesang Pangarep dalam membedakan antara istilah “nebeng” dan “pinjam,” yang menurutnya menunjukkan minimnya pemahaman literasi. Apalagi rutenya banyak.
Masak nebeng kok ke mana-mana. Sebelum ke Philadelphia, mengutip Roy Suryo, pesawat sempat mampir ke Los Angeles, California, dan Las Vegas, Nevada.
Menurut Roy, putra Presiden Jokowi tersebut belum sepenuhnya terbuka dalam klarifikasinya. “Kaesang tadi tidak jujur. Mengapa saya katakan begitu? Karena dia hanya menceritakan satu kali perjalanan ke Amerika, Philadelphia. Semua datanya ada,” katanya, dalam acara Rakyat Bersuara: Membaca Fenomena ‘Agak Laen’ di iNews, Selasa (17/9) kemarin.
Lebih lanjut, ia melihat bahwa kejujuran tidak hanya soal mengungkap sebagian kebenaran, tetapi keseluruhan cerita.
“Bukan bohong, tapi tidak jujur. Kalau jujur, ceritakan semua mulai dari rutenya, termasuk ke Bali. September 2023, dia ke Nagoya, Halim, sampai ke Adi Soemarmo Solo,” sambungnya
Pemakaian diksi nebeng oleh Kaesang apakah menunjukkan dia minim literasi? Kalau ini Roy Suryo punya jawabannya. “Ya itulah bukti keluarga itu seperti wawancara Mbak Nana, Najwa Shihab, kepada kakaknya Gibran bahwa keluarga itu sejak kecil nggak pernah diajarin literasi yang benar. Dia nggak bisa bedain antara nebeng sama minjem,” katanya.
Atau ini upaya berkelit dari dugaan gratifikasi? Lalu KPK dan kita begitu gampang dikibuli?
Kepala Pusat Riset Preservasi Bahasa dan Sastra Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Obing Katubi menganalisis kata ‘nebeng’ yang digunakan Kaesang untuk menjawab pertanyaan masyarakat mengenai jet pribadi yang dinaikinya ke Amerika Serikat bersama sang istri, Erina Gundono itu.
Obing menjelaskan, nebeng dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti ‘ikut serta (makan, naik kendaraan, dan sebagainya) dengan tidak usah membayar.
Namun demikian, definisi dari kata tersebut cenderung problematik dalam praktik keseharian. Hal ini karena terdapat pengertian ikut serta itu apakah orang yang ditebengi ikut serta dalam aktivitas tersebut atau tidak.
Selain itu juga terkadang ada pertanyaan apakah nebeng dalam kenyataannya harus berlaku hukum “Tidak usah membayar?”
Menurutnya, nebeng dalam konteks lain juga tidak selalu tentang “bayar-membayar”. “Contohnya adalah dalam konstruksi “nebeng tenar” atau “nebeng nama dalam publikasi.”
Dalam konstruksi seperti itu, artinya adalah penebeng tidak memberikan kontribusi,” tuturnya. Di samping itu, menilai bahwa bahasa dalam politik bersifat multitafsir dan multiguna. Sehingga, tidak menutup kemungkinan ada maksud tersembunyi dari kata ‘nebeng’ ini ketika naik jet pribadi tersebut.
“Bagaimanapun sekarang Kaesang adalah politisi. Para politisi pada umumnya menggunakan bahasa dengan maksud multitafsir dan bahkan multiguna,” katanya, dikutip dari Disway.id, Rabu (18/9).
Dia menjelaskan maksud multitafsir adalah kata yang digunakan politisi umumnya memiliki makna implikatur, yang jika dipahami secara lain oleh lawan politiknya, makna ujaran yang diungkapkan dalam pernyataan itu “bisa ditarik balik.
Sementara disebut multiguna karena ujaran Kaesang tersebut bisa jadi tidak hanya untuk menjelaskan aktivitas dirinya yang “nebeng pesawat private jet”. Menurutnya, kata ini bisa digunakan untuk menyerang para politisi lain yang bermobilitas menggunakan private jet.
“Dinyatakan multiguna karena ujaran Kaesang bisa jadi tidak hanya untuk menjelaskan aktivitas dirinya yang ‘nebeng pesawat privat jet,’ tetapi juga untuk menyerang para politisi lain yang ke mana-mana naik privat jet, seperti Megawati dan Puan Maharani, Mahfud MD, Ganjar Pranowo, dan Anies Baswedan. Tentu banyak politisi lain yang menggunakan privat jet ke mana-mana selain daftar di atas,” paparnya.
Melalui penggunaan kata “nebeng” tadi, katanya, “Kaesang ingin menunjukkan apakah para pejabat negara seperti Puan Maharani dan Mahfud MD itu nebeng ketika menggunakan privat jet atau membayar atau imbalan atas kebijakan?”
“Apakah mungkin politisi sekelas Megawati, Anies Baswedan, dan Ganjar Pranowo nebeng menggunakan privat jet ke mana-mana? Jika membayar, mengapa mereka tidak dipersoalkan sumber pendanaannya?”
KPK memastikan akan mendalami makna “nebeng” yang sebenarnya. Menurut Deputi Bidang Pencegahan dan Monitoring KPK Pahala Nainggolan, pihaknya belum mengetahui makna kata tersebut saat membuat laporan gratifikasi Kaesang.
“Ya kita konteksnya nggak ngerti ya, ditulis itu karena teman gitu kan, satu arah gitu, kan kita nggak tau juga nih temannya kayak apa sih gitu kan, searah tuh ya kayak apa gitu, kita lihat lah dianalisa kayak apa,” kata Pahala saat diwawancarai wartawan.
Pahala menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan klarifikasi terhadap seseorang berinisial Y, teman Kaesang, yang menyediakan jet pribadi untuk Kaesang, istrinya Erina Gudono, serta dua orang lainnya, yaitu kakak Erina dan stafnya.
Meskipun ada waktu 30 hari untuk menyelidiki laporan gratifikasi yang diajukan Kaesang sebagai anak pejabat negara, Pahala memastikan bahwa analisis akan dilakukan dengan cepat.
Begitulah politisi. Suka menjadi pelaku bebal bahasa. Celakanya, perilaku bebal bahasa ini menjelma menjadi kebenaran umum yang bahkan menjadi hiperrealitas.*





