Demo Dukung Palestina Kian Marak di Universitas-Universitas AS, Mahasiswa Kompak Kepung Kampus

Aksi mahasiswa yang mendukung Palestina di berbagai kampus di AS terus berlangsung dan meluas, yang membuat pihak kampus harus bekerja sama dengan kepolisian untuk membubarkan aksi. FOTO: RETERS
Universitas Columbia Ancam Keluarkan Mahasiswa

Sementara itu, Universitas Columbia mengeluarkan ancaman terhadap mahasiswa yang menduduki gedung kampus dalam aksi pro-Palestina, di mana para mahasiswa itu bakal dikeluarkan dari program akademik jika tidak mematuhi seruan kampus untuk membubarkan diri.

Kampus Columbia melontarkan ancaman tersebut usai munculnya orang-orang bertopeng yang memecahkan jendela dan memblokir pintu pada Selasa (30/4) pagi, ketika pemerintah mulai melarang para mahasiswa melakukan protes.

Bacaan Lainnya

“Mahasiswa yang menempati gedung kampus akan dikeluarkan,” kata juru bicara kampus, Ben Chang, seperti diberitakan AFP pada Rabu (1/5).

Chang menambahkan, kampus telah memberi kesempatan kepada para pendemo untuk meninggalkan gedung secara damai dan menyelesaikan semester mereka. Namun, banyak dari pedemo tak setuju, sehingga mereka diskors sejak Senin (29/4).

Mahasiswa yang demo dilarang masuk ke semua ruang akademis dan rekreasi. Mereka hanya diperbolehkan masuk tempat tinggalnya. Bagi mahasiswa senior, mereka tidak memenuhi syarat kelulusan.

Universitas Columbia mengatakan, ancaman dikeluarkan sebagai tanggapan untuk tindakan pengunjuk rasa, bukan tuntutan yang mereka sampaikan.

“Terus melakukan hal itu (aksi demonstrasi) akan mendapatkan konsekuensi yang jelas. Pengunjuk rasa memilih melakukan eskalasi ke situasi yang tidak bisa dipertahankan; merusak properti, mendobrak pintu dan jendela, dan memblokir pintu masuk,” tuturnya. “Kami akan menindaklanjuti konsekuensi yang kami uraikan kemarin.”

Kampus Columbia sudah mulai memberikan skorsing kepada para siswa yang menolak mematuhi perintah pembubaran. Universitas itu pun kini menyatakan tidak bisa memberikan toleransi berulang kali pada pengunjuk rasa yang melanggar aturan kampus.

Sementara itu, dilansir dari laporan Reuters, Rektor Universitas Columbia, Nemat Minouche Shafik, mengatakan jika perundingan pengurus mahasiswa dan pemimpin akademis yang telah berlangsung selama selama berhari-hari gagal membujuk demonstran untuk membongkar puluhan tenda yang didirikan untuk menyatakan penolakan terhadap perang Israel di Gaza.

Shafik pekan ini juga mengatakan Universitas Columbia tidak akan melakukan divestasi keuangan di Israel. Sebaliknya, ia menawarkan investasi di bidang kesehatan dan pendidikan di Gaza dan menjadikan investasi langsung Columbia lebih transparan.◼︎

Pos terkait