Saat kita merayakan kemerdekaan setiap 17 Agustus, pernahkah kita bertanya: siapa sebenarnya yang merdeka? Republik? Negara? Atau bangsa Indonesia?
__________
Sejarawan Nahdlatul Ulama (NU), Agus Sunyoto (1959 – 2021), pernah melempar pertanyaan tajam ini pada sebuah forum di tahun 2013 dan 2018. Menurutnya, penyebutan “Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945” bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari agenda global untuk menghapus identitas kebangsaan Indonesia.
Bila ditarik lebih jauh ke belakang, pola ini kentara bukan hal baru. Ia sudah dimulai sejak era kolonial. Sejak zaman Snouck Hurgronje, sang orientalis Belanda yang menyamar jadi Muslim demi memahami—dan mengendalikan—umat Islam di Nusantara.
Snouck: Menjajah Lewat Pengetahuan
Snouck bukan komandan militer. Ia tidak membawa senjata, tapi membawa buku catatan dan strategi. Ia memetakan Islam di Indonesia: yang ritual-privat boleh hidup, yang politis harus ditekan.
Hasilnya? Kebijakan kolonial yang mengatur siapa boleh jadi guru ngaji, pesantren mana yang boleh berdiri, dan ajaran mana yang “berbahaya”.
Ini bukan sekadar pengawasan. Ini adalah rekayasa makna, seperti yang dijelaskan filsuf Prancis Michel Foucault, dalam Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings 1972–1977.—bahwa pengetahuan bukan netral, tapi alat kekuasaan.
Siapa yang bisa mengendalikan “kebenaran”, bisa mengendalikan masyarakat.

Dari Hurgronje ke Neoliberal
Agus Sunyoto melihat pola yang sama masih bekerja hari ini. Bedanya, penjajah tak lagi berwujud kolonialisme militer, melainkan globalisasi neoliberal. Nama-nama baru menggantikan Hurgronje—lembaga donor, korporasi digital, kurikulum pendidikan, algoritma media sosial.
Tujuannya sama: membuat rakyat lupa bahwa mereka bagian dari bangsa, bukan sekadar individu dalam sistem negara. Dalam narasi global saat ini, “bangsa” dianggap kuno, dan semua identitas lokal dianggap penghalang bagi pasar bebas.
Agus memberi perumpamaan: bangsa adalah keluarga, negara hanyalah rumah. Hari ini, rakyat Indonesia diajari mengurus rumah, tapi lupa siapa keluarganya.
Masihkah Kita Bangsa?
Setiap 17 Agustus, kita kibarkan bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan. Tapi, jika yang kita rayakan hanyalah “negara”, bukan bangsa, maka kemerdekaan kita perlahan jadi semu.
Kita dijauhkan dari akar sejarah, dilepaskan dari jati diri, dan dimasukkan ke dalam mesin besar bernama “pasar global”.
Lalu, siapa yang untung? Mereka yang memonopoli pengetahuan, mengatur pendidikan, mengontrol wacana publik, dan menjual mimpi-mimpi gaya hidup modern.
Persis seperti zaman kolonial—hanya lebih halus, lebih canggih.
Kini, tugas kita bukan hanya menjaga tanah air, tapi juga menjaga ingatan, menjaga kata “bangsa”, dan menyadari bahwa pengetahuan pun bisa menjadi medan perlawanan.***





