Dari Belanda hingga Globalisasi, Siapa Menguasai Kurikulum Indonesia?

Dari penjajahan, perang, hingga globalisasi, ruang kelas menjadi arena perebutan nilai dan cara berpikir generasi.

Kajian BINUS University (2020) mencatat bahwa kurikulum awal kemerdekaan menekankan pendidikan watak, kesadaran bernegara, dan keterkaitan sekolah dengan kehidupan sosial.

Namun sejak awal, kurikulum tidak sepenuhnya steril dari dinamika politik. Pada masa Demokrasi Terpimpin, orientasi ideologis negara mulai masuk ke ruang kelas seiring menguatnya peran negara dalam kehidupan publik.

Orde Baru: Sentralisasi dan Kontrol Ideologis

Perubahan paling drastis terjadi pada masa Orde Baru di bawah Presiden Soeharto. Negara menguasai kurikulum secara sentralistik dan menjadikannya alat stabilitas politik.

Bacaan Lainnya

Kurikulum 1968, 1975, 1984, hingga 1994 diberlakukan seragam secara nasional. Pendidikan Moral Pancasila diwajibkan. Narasi sejarah diseleksi ketat, sementara kritik terhadap negara dikeluarkan dari ruang kelas.

Penelitian dalam Jurnal Edukatif (2021) menyimpulkan bahwa kurikulum Orde Baru berfungsi sebagai alat kontrol ideologis untuk membentuk warga negara yang patuh dan tidak politis.

Reformasi dan Globalisasi: Standar Internasional Masuk Kelas

Pasca-1998, sentralisasi ekstrem runtuh. Namun kurikulum tidak sepenuhnya bebas. Ia memasuki fase baru: dominasi standar global.

Kurikulum Berbasis Kompetensi (2004), KTSP (2006), Kurikulum 2013, hingga Kurikulum Merdeka disusun dengan narasi adaptasi global—daya saing, keterampilan abad ke-21, dan kesiapan dunia kerja.

Kajian akademik di ResearchGate (2023) mencatat bahwa Kurikulum Merdeka diselaraskan dengan logika globalisasi dan era digital. Bahasa ideologi digantikan terminologi teknokratis: kompetensi, literasi, asesmen, dan tolok ukur internasional.

Kurikulum sebagai Arena Kekuasaan

Data sejarah dan kajian akademik menunjukkan satu pola konsisten: kurikulum Indonesia selalu berada dalam pengaruh kekuasaan.

Pada masa kolonial, ia melayani administrasi dan perang. Pada masa negara nasional, ia menopang nation building dan stabilitas. Di era globalisasi, ia dibentuk oleh rezim pengetahuan dan standar internasional.

Yang berubah adalah wajah penguasanya. Yang tetap sama: kurikulum selalu menjadi arena pertarungan nilai—sunyi, tetapi menentukan arah generasi masa depan Indonesia.***

Pos terkait