Esai reflektif tentang perdebatan hisab dan rukyah dalam penetapan awal Ramadan. Mengulas dimensi teks suci, sains modern, maqashid syariah, serta ujian kedewasaan umat dalam merangkul perbedaan di tengah perubahan zaman.
Esai reflektif tentang perdebatan hisab dan rukyah dalam penetapan awal Ramadan. Mengulas dimensi teks suci, sains modern, maqashid syariah, serta ujian kedewasaan umat dalam merangkul perbedaan di tengah perubahan zaman.
Isu Hangat
Perlu Dibaca
Kategori: Opini
Membeli Integritas Wakil Tuhan? Ketika Gaji Ratusan Juta Kalah oleh Kerakusan
Integritas tak bisa dibeli dengan slip gaji. Mengulas ironi korupsi hakim di PN Depok: Saat kerakusan mengalahkan kesejahteraan dan keadilan menjadi barang dagangan.
Paradoks Guru Ngaji: Dipuja Ikhlas di Mimbar, Melarat di Realita
Esai kritis mengenai paradoks kesejahteraan guru agama di Indonesia. Benarkah nilai keikhlasan sengaja digunakan sebagai dalil untuk menormalisasi kemiskinan dan menutupi kegagalan kebijakan negara dalam melindungi guru honorer dan swasta?
Eyang Meri dan Etika yang Terlupakan
Meriyati Roeslani Hoegeng, istri Jenderal (Purn) Hoegeng Iman Santoso, meninggal dunia pada usia 100 tahun.
Maaf Tak Cukup, Pejabat Publik Butuh Evaluasi hingga Rotasi Jabatan
Opini ini menyoroti krisis etika komunikasi pejabat publik yang kerap melukai rakyat. Permintaan maaf dinilai tak cukup, perlu evaluasi institusional hingga opsi rotasi jabatan demi pulihkan kepercayaan publik dan wibawa negara.
Apakah Negara Hadir untuk Semua Pesantren?
Pengakuan negara terhadap pesantren melalui UU Pesantren dan Ditjen Pesantren membawa harapan baru. Namun, tantangan keadilan, netralitas pelayanan, dan pendampingan pesantren kecil menjadi ujian sesungguhnya kehadiran negara.
Di Tepi Gerbong yang Retak
Kasus hukum seorang Gus mengguncang batin santri, membuka krisis loyalitas, moral pesantren, dan relasi agama dengan kekuasaan.
Tentang Formula yang Bernama “Muktamar”
Esai ini membedah krisis PBNU, tarik-menarik legitimasi Muktamar, serta pentingnya kembali pada komando Syuriyah demi menjaga jiwa dan tradisi Nahdlatul Ulama.
NU, Organisasi dan Arogansi
PBNU dinilai semakin sentralistik lewat pembatalan hasil Konfercab, penunjukan karteker, dan keputusan yang menyingkirkan musyawarah daerah. Artikel ini mengulas kegelisahan kiai dan ancaman lunturnya kearifan NU.
Yang Ilahi dan yang Insani di Jalan Kramat
Tulisan reflektif Aguk Irawan MN ini menyoroti dinamika ulama di Jalan Kramat, mengingatkan kembali pada esensi keulamaan sejati: bukan perebutan posisi, melainkan penyambung wahyu yang menebarkan ketenangan dan kebijaksanaan bagi umat.
Tidak Ada Pos Lagi.
Tidak ada laman yang di load.








