Tentang Formula yang Bernama “Muktamar”

Ilustrasi.
Krisis di tubuh Nahdlatul Ulama kian mengemuka ketika Muktamar tak lagi dipahami sebagai jalan mufakat, melainkan arena perebutan tafsir kekuasaan dan legitimasi kepemimpinan.

Oleh: Sinful Bahri — Esais Nahdliyin yang tinggal di Madura.

Galibnya, kekuasaan selalu memiliki godaannya sendiri: ia kerap membuat pemegangnya merasa tunggal. Di gedung Kramat Raya itu, kita kini melihat retakan yang tak lagi bisa disembunyikan dengan semen slogan-slogan besar tentang “peradaban” atau “renaisans.” Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di muka bumi ini, sedang demam. Dan demam itu, tampaknya, bersumber dari satu hal purba yang nganyelké: perebutan tafsir tentang siapa yang paling berhak memegang kemudi.

Krisis PBNU hari ini bukan sekadar soal administrasi. Ini soal jiwa. Kubu Gus Yahya Cholil Staquf, dengan segala visi globalnya, kini berdiri di titik nadir. Ada klaim sepihak yang terasa angkuh, seolah mandat organisasi adalah cek kosong yang bisa ditulis sendiri nominalnya. Padahal, NU tak dibangun di atas podium pidato ketua umum semata; ia dibangun di atas dawuh kiai, di bawah payung Syuriyah.

Kita tahu, jalan keluar dari labirin ini sesungguhnya terang benderang, meski pahit bagi ego yang kadung melambung. Syaratnya satu: ketulusan untuk menepi. Krisis ini hanya bisa diselesaikan jika kubu Gus Yahya sanggup mengetepikan klaim kebenarannya sendiri, menundukkan kepala, dan bekerja bersama di bawah komando Syuriyah untuk menggelar sebuah Muktamar yang legitimate. Bukan Muktamar rekayasa, bukan panggung legitimasi paksa.

Bacaan Lainnya

Sebab, legitimasi dalam tradisi NU adalah soal trust (kepercayaan) dari basis, bukan sekadar stempel legalitas negara. Greg Fealy, seorang pengamat NU yang jeli dari Australian National University, pernah mengingatkan bahaya ketika elite NU terlalu asyik masyuk dengan manuver politik dan melupakan akarnya. Dalam tulisannya, ia menyebut:

“The danger for NU is that it becomes a patron-client instrument, where decisions are driven by proximity to power rather than the interests of the ummah.”
(Bahaya bagi NU adalah ia menjadi instrumen patron-klien, di mana keputusan didorong oleh kedekatan dengan kekuasaan ketimbang kepentingan umat). — Greg Fealy, Nahdlatul Ulama and the Politics of Moderation.

Jika Muktamar digelar tanpa restu penuh dan pelibatan substantif dari Syuriyah, ia hanya akan menjadi teater kosong. NU akan kehilangan watak aslinya sebagai masyarakat sipil yang mandiri. Martin van Bruinessen, Indonesianis yang tekun itu, dalam karya klasiknya mengingatkan kita bahwa kekuatan NU justru terletak pada struktur kulturalnya yang cair namun hormat pada hierarki keulamaan, bukan pada komando birokratis yang kaku.

“NU is not a rigid hierarchy but a complex network of traditional authority centered on the kiai. To ignore this structure is to ignore the very soul of the organization.”
(NU bukanlah hierarki yang kaku, melainkan jaringan otoritas tradisional yang kompleks yang berpusat pada kiai. Mengabaikan struktur ini berarti mengabaikan jiwa organisasi itu sendiri). — Martin van Bruinessen, NU: Tradisi, Relasi-relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru.

Maka, “kembali ke barak” alias kembali ke komando Syuriyah bukan lagi sekadar jargon. Ia adalah tuntutan eksistensial. Kubu Gus Yahya harus berhenti menganggap kritik sebagai makar. Mereka harus merangkul kembali para sesepuh di Syuriyah, bukan sebagai stempel karet, tetapi sebagai pemegang kompas moral. Tanpa itu, perpecahan akan permanen.

Mitsuo Nakamura, yang memotret kebangkitan NU puluhan tahun silam, juga pernah menulis tentang ketahanan organisasi ini yang bersumber dari kearifan ulamanya, bukan semata diktum administratif:

“The resilience of Traditionalist Islam lies in its ability to seek consensus through the wisdom of the elders, ensuring that modernity does not erode its spiritual foundation.”
(Ketahanan Islam Tradisionalis terletak pada kemampuannya mencari mufakat melalui kebijaksanaan para sesepuh, memastikan bahwa modernitas tidak mengikis fondasi spiritualnya). — Mitsuo Nakamura, The Crescent Arises over the Banyan Tree.

Pada akhirnya, sejarah akan mencatat. Apakah hari-hari ini akan dikenang sebagai momen ketika sebuah warisan besar amblas karena ambisi, atau justru momen ketika kebesaran jiwa muncul untuk menyelamatkan rumah bersama. Muktamar yang legitimate adalah kuncinya. Dan kuncinya ada di tangan mereka yang berani melepaskan genggaman tangan yang terlalu erat pada kekuasaan.

Di luar jendela, langit masih temaram oleh mendung. Kita menunggu.

Pontianak, 3 Januari 2026.

Pos terkait